Langsung ke konten utama

Inspirasiku


Nadia
Ini adalah sebuah cerita nyata dari saudaraku sendiri. Sepupuku, nadia namanya, dia sekarang sudah kuliah di Univ. Andalas Padang. Semenjak 3 tahun yang lalu, ayah dia pergi meninggalkan ibu, dia dan 2 adiknya. Bapak tidak bertanggung jawab. Ibunya mengalami rtress berat karena ditinggal suaminya tanpa memberikan nafkah sedikitpun, rumahnya pun tak layak, tapi aku mengacungi jempol ke nadia, dia gadis yang luar biasa, tangguh dan cerdas, walaupun keluarganya tidak tidak mampu untuk menyekolahkan ke jenjang yang lebih tinggi, tapi dia yakin, akhirnya setelah lulus SMA, dia mendapat beasiswa putra daerah, biaya SPPnya sudah ditanggung selain itu juga dia mendapat uang saku sebesar 3, 5 juta setiap bulannya, dia memang anak yang cerdas, di bangku kuliah nilainya cukup bagus dan selalu cumlaude.  Dari uang sakunya dia menyisihkan 2 juta untuk dikasih ke ibunya. Dan 1, 5 juta untuk dia sendiri biaya transportasi, fotokopi, dan kebutuhan kuliah lainnya.
Sekarang ibunya jualan gorengan untuk menyambung hidup adiknya yang paling kecil, adik yang ke dua dirawat dan dibiayai tanteku. Ya begitulah ceritanya.
Hikmah dari cerita ini adalah pengorbanan demi meraih cita-cita, dan langkah yang harus dia capai demi mewujudkan mimp-mimpinya, siapa yang dapat menyangka nadia seperti sekarang ini, gadis yang cerdas, tangguh, taat pada orangtua.





Cerita kedua adalah kakak ku sendiri.
Namanya mbak ayu, dia adalah kakakku, tapi bukan lahir dari rahim ibuku, dia diangkat anak oleh ibu dan bapak ketika setelah menikah ibu tidak kunjung dikaruniai anak. Akhirnya mengangkat anak dari tetangga jauhnya, dan ibu tidak pernah menjauhkan dari orangtua kandungnya. Mbak ayu masih tetap bisa bertemu dangan bapak dan ibu kandungnya sendiri.
Setelah sekian lama lahirlah aku di dunia ini, pada tanggal 14 juni 1990 #intermezzo
Okey lanjut lagi cerita tentang mba ayu, dia memang pintar, encer banget dah otaknya, terlihat mulai sejak kecil meraih juara 1 terus dan nilai rapor SMP dan SMA bagus bagus, setelah lulus kuliah dia melanjtkan studinya di fakultas kedokteran UGM, (Udah biasa aja jangn wow hehe), mungkin dimata orang kuliah d fk ugm mahal gtu ya,, ngak kata ibuku, mba ayu mendapat beasiswa selama menempuh S.1 jadi jatah uang saku dari ibu ya sebagai tambahan.
Dia tidak pernah meminta sedikitpun uang ke bapak dan ibu, berusaha mencari uang sendiri, mulai dari menjadi asisten dosen sampai jualan pernak-pernik. #bedabanget sama aku yah ahaha.
Kalau aku pulang ke jogja, dikamarnya pasti ada barang2 menakutkan bagiku, tulang tangan manusia hihhiiii,,, iya dia asisten anatomi. Yang aku liat mba ayu mempunyai tekad yang tinggi, belajar sampai malam, sholat tak pernah terpotong, mengaji, dimanapun dia berada pasti ada buku, ga tau itu buku kuliha, dan novel. Di sela waktunya dia pernah bekerja di penerbit, sebagai editor, kalau ga salah inget dia udah lulus gelar S.Ked dan selang waktu menunggu koass dia bekerja, gajinya lumayan.
Lulus S.1 dengan nilai tertinggi lanjut menempuh jenjang Koass. Yang aku bisa ambil hikmah dari kehidupan mba ayu adalah tetap taat dan patuh keoada orangtua walaupun bukan anak kandung, memegang teguh prinsip, mempunyai impian yang tinggi untuk menggapai cita-cita. Kalau kata dia ‘’kehidupan ini adalah jalan menuju akherat, lebih baik susah sekarang didunia daripada menyesal di akherat’’
Setelah lulus dokter, dia bekerja di puskesmas di dareah wonogiri jawatengah. Selama 1,5 tahunan dia mengabdi untuk masyarakat disana, sampai akhirnya dilamar oleh mas dian asli solo. Setelah menikah mba ayu memutuskan untuk mengikuti suaminya, tidak bekerja lagi. #aduh kalau aku belum siap, sekolah kedokteran susah susah eh akhirnya setelah mnikah ga bekerja..
Tapi itu adalah keputusan dari mba ayu sendiri, karena prinsipnya adalah di dunia ini adalah ladang amal. Dimana menurut pendapatnya taat dan patuh pada suami itu adalah pahala besar sebagai seorang istri. Yaa bener juga sih J menurut agama juga begitu.

Banyak sekali petuah-petuah yang mba ayu berikan padaku, mulai dari, kuliah itu dari hati, lakukan apa yang kamu yakini, dan yakini kamu pasti bisa, taat pada orangtua, serta segera menikah jangan menunda kebaikan. Ini nih yang bikin agak galau, tapi yaa terimakasih atas wejangannya selama ini, sun sayang untuk kakakku tercintaa J

Komentar

  1. waduh, mba ayu, sayang sekali kok ga diteruskan mengabdinya. Ladang amal di dunia? tidak salah. Tetapi menjadi seorang dokter juga bisa menjadi ladang amal kita, tergantung bagaimana niat dan menjalaninya. Inspiring!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

check up

lagi-lagi dan lagi, agenda tahunan, hmmm ini bukan agenda rapat LPJ tahunan organisasi ya, tapi ini agenda tahunan aku periksa / check up ke dokter kandungan alias obgyn, selain ke dokter mata dan dokter gigi.  *tutup mata *tutup telinga  tutup mata karena memang harus ngeluarin duit banyak dan tutup telinga, karena aku selalu paranoid terus sebelum check up.  lanjut cerita yuk, memang sudah hampir 4 atau 5 tahun ini saya selalu check up ke dokter kandungan,  berawal dari saya tida kedatangan ''tamubulanan'' selama 2 bulan, biasanya teratur, kok ini ga teratur yaa...*mikir dalam benakku, mesti ada-apa. oia, saya biasa periksa ke dr. Siti candra, dulunya tempat prakteknya kecil, tapi sekarang sudah gede, sudah berdiri rumah sakit yang dinamain, RSIA Galeri Candra. yang ngasih info ya mba hida. dulu, awal kesana ditanya anamnesa, kemudian di periksa USG, ternyata ga ada apa-apa, legaaaaaa rasanyaaa.... pikirku, ga di kasih ...

Hijab Ku *_*

Bismillah Jilbab yang pertama kali saya kenakan yaitu disaat selesai menempuh pendidikan di bangku SMA, tepatnya setelah pengumuman kelulusan. Di awal memakai jilbab, saya tidak memiliki motivasi apapun, hanya ingin memakai saja. Ketika itu pula tidak berfikir bahwa jilbab merupakan kewajiban bagi seorang muslimah. Sebagian orang berfikir matang-matang sebelum memakai jilbab, bahkan banyak pula yang mengatakan akan berjilbab hati dulu sebelum berjilbab sebenarnya. Sejujurnya kurang setuju dengan pendapat tersebut, secara rasional bagaimana caranya berjilbab hati, kalau berjilbab tubuh jelas bisa dengan pakaian hijab. Namun apapun pendapat orang harus kita hargai. ^_^ Sebenarnya latar belakang keluarga saya bukan dari keluarga islam murni, keluarga besar ibu menganut agama nasrani dan keluarga ayah menganut agama islam, setelah lulus SD hijrah ke kota malang dan hidup bersama ayah, dari sinilah kehidupan baru dimulai, dengan dimulai belajar agama islam sedikit demi sedik...

Bogor

sudah ketiga kalinya aku menginjakan di bumi Bogor, tapi baru kali ini merasa menikmati kota ini. kota yang nyaman penuh kedamaian, memberikan kesan. orangnya baik dan ramah, hawanya panas ga panas,  masih asri, belum banyak terkontaminasi.. ah jadi pingin punya rumah di sini dan tinggal di Bogor :)) apalagi jauh dari malang, bogor jadi pengganti kerinduanku tentang malang. terimakasih Bogor... besok-besok ke Bogor lagi lah kalau lagi kangen malang. aamiin,,, di jakarta jenuh...