Bismillah
Jilbab yang pertama kali saya kenakan yaitu disaat selesai menempuh pendidikan di bangku SMA, tepatnya setelah pengumuman kelulusan. Di awal memakai jilbab, saya tidak memiliki motivasi apapun, hanya ingin memakai saja. Ketika itu pula tidak berfikir bahwa jilbab merupakan kewajiban bagi seorang muslimah. Sebagian orang berfikir matang-matang sebelum memakai jilbab, bahkan banyak pula yang mengatakan akan berjilbab hati dulu sebelum berjilbab sebenarnya. Sejujurnya kurang setuju dengan pendapat tersebut, secara rasional bagaimana caranya berjilbab hati, kalau berjilbab tubuh jelas bisa dengan pakaian hijab. Namun apapun pendapat orang harus kita hargai. ^_^
Sebenarnya latar belakang keluarga saya bukan dari keluarga islam murni, keluarga besar ibu menganut agama nasrani dan keluarga ayah menganut agama islam, setelah lulus SD hijrah ke kota malang dan hidup bersama ayah, dari sinilah kehidupan baru dimulai, dengan dimulai belajar agama islam sedikit demi sedikit. Saat SMP kelas 2 saya dipertemukan dengan seorang guru yang kebetulan beliau adalah guru agama, sejak itulah kami sering berbagi tentang agama sedikit demi sedikit mulai dari hal yang paling kecil. Saat itu yang saya ketahui barulah nabi terakhir yaitu Muhammad SAW, ya bisa dibilang masih sebatas ujung kuku saja. Kemudian, naik kelas 3 SMP, beliau di pindah tempatkan, sehingga belajar agama saya dengan beliau pun harus terputus hingga pribadi ini menjadi anak yang jauh dari yang namanya sentuhan rohani, sholat pun bisa dihitung dengan jari selama 1 bulan, apalagi dengan kondisi kelas 3 yang dimana disibukan dengan les menempuh ujian akhir nasional.
Seiring berjalannya waktu saya pun melanjutkan studi ke jenjang SMA, sama seperti kemarin-kemarin masih seperti anak-anak lain yang belum mengenal secara mendalam ilmu pengetahuan agama, saat itu saya disibukkan dengan kegiatan pencinta alam, seni beladiri tapak suci dan karya ilmiah remaja, dan urusan penampilan ketika itu seperti laki-laki, tak pernah memakai rok kecuali saat sekolah saja, rambut yang selalu kuncir 1 seperti kucir kuda, sebenarnya ingin rasanya memotong rambut panjang itu, tetapi tidak diizinkan oleh ibu dan ayah. Bertahun-tahun saya jauh dengan tuhan, boro-boro memakai hijab, apa itu hijab pun belum mengetahui arti dan maksudnya. *(Astaghfirullohaladzim. Jangan ditiru)*.
Hari demi hari terlalui, dan tiba saatnya saya kelas 3 SMA, saat itu adalah ujian praktek agama, tidak tahu mengapa, rasa ini sangat takut sekali, padahal sebenarnya saya ini beragama islam, kenapa harus takut untuk menghadapi ujian doa-doa setelah sholat, membaca al-quran dan membaca doa-doa sehari-hari?. Hal yang membuat takut mungkin dikarenakan saya tidak pernah maksimal dalam belajar agama. Dan saat itu saya menangis ketika masuk dan menghadap guru penguji, guru penguji pun terlihat heran dan bertanya banyak pada saya, akhirnya beliau mengerti dan membimbing dalam belajar agama. *(Terimakasih ibu guruku tercinta)*.
Setelah selesai ujian langsung pulang ke rumah dan merenung di kamar, betapa bodohnya dan celakanya diri ini, Allah masih memberi nafas, tubuh yang sempurna, dan kenikmatan-kenikmatan selama hidup, dan hal tersebut telah saya sia-siakan tanpa taat, bersyukur kepadaNya, ingat Allah saja mungkin tak pernah saat itu. *(Astaghfirulloh)*.
Ada rasa sesak di dada ini yang tak bisa diungkapkan, dan setelah merenung dalam kegundahan kemudian mendapat secercah cahaya untuk pergi ke guru ngaji yang biasa mengajar ngaji di daerah saya, saya ingin belajar agama dan al-quran, hari demi hari setiap sore belajar mengaji di rumah beliau. Selain mengaji, beliau mengajarkan juga terkait agama dan salah satunya kewajiban memakai jilbab bagi perempuan yang sudah baligh. Begitulah rutinitas setiap sore sambil menunggu pengumuman kelulusan ujian nasional.
Dan sampai akhirnya hari pengumuman UAN pun datang juga, kami 1 kelas IPA 4 berkumpul di rumah wali kelas dan disana detik-detik pengumuman dibacakan. Alhamdulillah saya lulus dengan nilai yang memuaskan. Setelah itu berfikir untuk meneruskan kuliah di perguruan tinggi, ketika mendaftar ujian SNMPTN itulah pertama kali saya memakai jilbab.
Tidak ada motivasi apapun, tetapi hati ini merasa tergerak untuk memakai jilbab, padahal saat itu hanya mempunyai 1 jilbab itu pun peninggalan kakak yang pergi ke Jakarta. Tentu hal tersebut terjadi atas seizin dan hidayah dari Allah, karena pertama kalinya memakai hanya ingin memakai saja, setelah itu bisa di bilang ilmu tentang agama sangatlah sedikit, surah yang menyuruh wanita berjilbab atau menutup auratnya pun masih belum tahu, sholat masih bolong-bolong, baca al quran pun bisa dibilang tidak pernah. *(Astaghfirulloh, benar-benar masa-masa jahiliyah, dan amat saya sesali sekarang, tapi apa daya kehidupan haruslah tetap berlanjut)*.
Sejalan dengan pemakaian jilbab, jilbab yang saya kenakan belum jilbab syar’i, hanya menutup kepala saja, belum menutup dada atau bagian tubuh yang lain, masih pakai celana ke mana-mana. Dengan berjalannya waktu sedikit-demi sedikit memncoba belajar agama melalui guru ngaji, dan mulai dari saya mengerti betapa hijab sangat perlu dipakai untuk melindungi kaum hawa (muslimah), dan dari belajar itulah diberi petunjuk betapa besar kebesaran Allah subhanAllah. Al quran adalah kitab yang sangat luar biasa. ^_^
Selanjutnya masuk bangku kuliah pun saya memakai jilbab belum sepanjang dan selebar sekarang, karena belum tahu sejatinya jilbab itu seperti apa, berjalannya waktu saya bersemangat untuk memperbaiki diri, belajar agama, mengikuti kajian-kajian dan forum-dorum dakwah islam, dan dari situlah ilmu-ilmu kan mengalir pada diri ini. Selain itu beruntung bisa bertemu dengan saudari-saudari yang selalu mengingatkan untuk memperbaiki akhlak, dan dari sini juga akhirnya bisa belajar memakai jilbab yang sebenarnya, atau bisa dikatakan jilbab syar’i atau jilbab menurut aturan agama islam.
Begitu banyak cobaan dan ujian yang Allah berikan ketika memakai jilbab mematuhi perintah Allah, ibu yang saat nan jauh dimata, ketika mengetahui saya memakai jilbab, menyuruh untuk melepas begitu juga nenek. Tetapi saya mencoba tetap istiqomah dijalanNya, mencoba untuk menjelaskan sedikit demi sedikit tentang jilbab, dan lama kelamaan ibu dan nenek mengerti alasan memakai jilbab, memang butuh waktu lama agar mereka menerima apa yang saya lakukan ini. Banyak pertentangan batin jika saya pulang ke rumah nenek dan berkumpul bersama keluarga besar, perkataaan-perkataan negatif dari mereka yang didapatkan merupakan salah satu motivasi untuk tetap memakai hijab ini bukan justru melepasnya naudzubillah. Terkadang saya merasa ini keluarga tetapi rasanya ini bukan tempat saya, sedikit demi sedikit melakukan pendekatan dan penjelasan kepada mereka. Dan hal positif yang didapatkan, percaya kalau kita melaksanakan sesuatu didasari niat karena Allah dan atas RidhoNya lah bisa sampai saat ini, selalu berhusnuzon kepada Allah. Allah tidak akan memberikan ujian yang hambanya tidak mampu laksanakan, komitmen atas perintah Allah itulah kuncinya.
Di sela kesibukan menjalani kuliah, juga selalu menyempatkan waktu untuk belajar agama, diawali dengan mengikuti mentoring, halaqoh, liqo dan mengikuti kajian-kajian yang biasa diadakan di masjid-masjid.
Dari jilbab inilah motivasi untuk memperbaiki diri menjadi manusia yang bermanfaat dan menjadi muslimah sholehah insyAllah aamiin. Memakai jilbab merupakan perintah Allah untuk kaum muslimah, seruan Allah itu ada di Al-Qur’an surah An-Nur ayat 31, “Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan khumurnya (Indonesia: hijab) ke dadanya….”
Jilbab merupakan identitas bagi seorang muslimah, karena jilbab merupakan penutup, pelindung dari segala kemaksiatan. Dua tahun ini saya sudah menanggalkan celana panjang, pakaian-pakaian yang ketat dan yang lainnya.
Banyak manfaat yang bisa diambil ketika memakai jilbab syar’i. Maklum saya memakai jilbab syar’i baru 2,5 tahun ini, dan merasakan wanita memakai jilbab syar’i lebih dihormati. Sebuah kejadian ketika pergi ke jogja, saat akan naik bus dan waktu itu berdesak-desakan bingung harus bergerak kearah mana karena disitu ramai sekali, dan tiba-tiba ada seorang laki-laki yang mencoba membantu menegur orang-orang yang berdesakan tadi dengan kalimat yang begitu halus “mas bisa agak geser ke depan, kasihan mbak ini nanti kakinya terinjak”, Alhamdulillah, agak sedikit longgar walaupun masih dalam keadaan berdiri, padahal saya bukan perempuan sendiri yang berdiri, subhanAllah, dari situ bisa mengambil hikmah dari memakai jilbab, sesampainya di Jogja dan menghadiri acara teman disana, saya bersama 3 teman saat memasuki gedung, teman-teman disalami oleh penerima tamu yang notabene ada laki-laki yang barang tentu bukan muhrim, saat saya melewatinya, laki-laki tersebut semuanya enggan bersalaman dengan saya, mereka tidak menyalami, sama seperti yang mereka lakukan pada teman-teman saya tadi, subhanAllah, untuk kedua kalinya terfikir dalam benak bahwa, apakah ini hikmah memakai hijab yang syar’i melindungi dari perbuatan yang tidak diperkenankan Allah.
Ketika memakai hijab ini Alhamdulillah dipertemukan dengan orang-orang yang membantu dalam mendekatkan diri pada Allah, berkumpul di lingkungan yang terkesan positif. Yang merupakan langkah awal menuju kebaikan di jalan yang di ridhoi Allah. Jika saya melihat mbak-mbak mentor dan teman-taman yang mengikuti majelis ta’lim, mereka terlihat cantik, teduh, kalem dengan pakaian lebar, dan balutan jilbab lebar. Dan mulai itulah dalam hati berniat untuk memakai jilbab yang lebih lebar daripada yang saat itu dipakai. Saya percaya Allah akan mempermudah hambanya untuk berjalan di jalanNya. Tidak akan mempersulit, karena Allah-lah yang menyeru untuk berjilbab.
Dan salah satu perintahnya di al quran
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “ (Q.S Al-Ahzab: 59)
Rasululloh SAW bersabda: “Ada dua golongan penghuni neraka yang saya belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim).
Banyak pesan-pesan yang telah disampaikan di Al-Quran dan Hadist terkait uluran jilbab bagi wanita, Alhamdulillah, selalu bersyukur diberi hidayahNya sehingga bisa memperbaiki diri, betapa bahagianya diri ini masih diberi kesempatan untuk taat kepadaNya dengan menanggalkan pakaian terbuka, celana ketat, diganti dengan pakaian yang menutupi aurat ini.
Saya bangga menjadi seorang muslimah, Allah menjadikan wanita makhluk yang sangat istimewa, unik dan melindungi sesuai perintah-perintahNya, maka sepatutnya kita harus selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah
Tapi memang uluran jilbab panjang tidak bisa mengukur kadar keimanan seseorang, tidak dapat menunjukkan kedudukan mereka di sisi Allah. Bisa jadi Allah menganugerahkan kebaikan yang besar untuk mereka, bahkan sangat mungkin jiwa mereka lebih mulia daripada perempuan yang jilbabnya melambai-lambai saking besarnya. Namun dengan kita berdoa untuk kawan-kawan muslimah lainnya, disini kita memiliki tanggung jawab untuk melindungi diri kita sendiri yang akan dipertanggungjawabkan kelak dihadapan ALLAH di hari akhir nanti.
Dan akhir kalimat ini hanya ingin berkata ‘’ Ya Allah, tetapkan hati ini untuk tetap istiqomah di jalanMu, Aamiin” ^_^
Komentar
Posting Komentar