Langsung ke konten utama

Obrolan Siang di Kala Hujan


Mendung terlihat dilangit, sepertinya hujan akan turun deras, tapi aku nekat ke Batu untuk beli buah buat adekku. Sepulang dari beli buah pun dijalan hujan sudah mulai turun. Dan aku baru ingat ternyata jas hujan ada di motor satunya, al hasil aku harus berteduh, kalau ngak pasti basah kuyup, nanti kalau sakit malah repot…
Kendaraan ini tertuju pada ruko dekat perempatan arah mau ke selecta (klenteng) di sana tak di sangka, aku bertemu dengan teman SMPku pas kelas 2, namanya erik, kira-kira kita udah ga ketemu 7 tahunan. Dia sekarang menjadi tukang parkir di ruko-ruko tersebut. Ngobrol sebentar, akhirnya aku diajak berteduh bareng temen-temannya di sebelah klenteng. Disana aku bertemu sama 2 anak jalanan (pengamen), dan 1 penjual Koran. Sepertinya umurnya ya sebaya denganku semuanya.
Sambil menunggu hujan reda, kami pun asik mengobrol, awalnya ku Tanya tentang pekerjaan mereka.
Aku dapat mengambil hikmah dan pembelajaran setelah aku berteman, ngobrol dengan mereka, dan ini cerita tentang mereka…
mereka tau tentang susah dan kerasnya hidup. Salah satu dari mereka dari keluarga broken home, ibunya pergi merantau ke Jakarta,ayahnya menikah lagi dan tak bertanggungjawab, dia tak dinafkahi ayahnya, sekarang dia hidup bersama bude dan pakdenya.
Karena bude dan pakde nya selalu bersikap keras dan main pukul. Dia pun pergi dari rumah dan menjadi pengamen. dia putus sekolah sejak kelas 1 SMA.
Mereka berharap hidupnya tak seperti itu.
Setiap orang punya garis tangan masing masing, rejeki, jodoh, dan mati kita sudah di atur oleh sang sutradara kehidupan yaitu ALLAH SWT.
Kemudian saat aku di tanya erik ‘’ sil, kmu udah lulus kuliah ya, udah nikah belum, aku ae dah punya anak 1’’  
‘’belum rik, haha,’’ jawabku sambil ketawa.
Langsung ku tanya ke mereka ‘’ tentang cewek idaman mereka’’
Pada dasarnya dari hati yang paling dalam mereka menginginkan seorang pedamping yang baik, menjaga diri, memakai jilbab, di rumah, sholehah.
Ada yang menjawab ‘’ ya sebenernya aku mau punya istri yng sholehah mba, biar bisa ngurus anak-anakku nanti bener. Tapi gimana lagi aku kyk gini, apa mereka cewek yg sholehah mau dengan kayak kita yang orang brandalan kyk gini. Hah ga berharap banyak mba’’
ku tampik dengan kalimatku ‘’ lho lho, yo jangan pesimis gitu lah, kalau kamu pingin perempuan yang kayak gtu ya kamu harus berusaha menjadi seperti itu, jaga sholat, beribadah’’
‘’ mba mba,, wong dia aku ajak sholat aja ga mau, selalu ada alasan’’ celetuk penjual Koran.
Dan dari obrolan tadi sebenarnya mereka atau laki-laki itu dari hati yang paling dalam ingin memiliki pendamping hidup yang sholehah. Tapi mereka sudah pesimis dulu untuk mencari pendamping yang seperti itu. Jadi wahai perempuan, ayo perbaiki diri, dekatkan diri pada Ilahi, pasti kan bertemu dengan sesosok lelaki pillihan.
Dari ngobrol dengan mereka aku banyak belajar, belajar tentang kehidupan.
Erik, dia mau bekerja apa saja demi menafkahi anak dan istrinya. Kata-kata dia yang teringat dalam benakku ‘’laki-laki itu dilihat dari tanggungjawabnya bukan yang lain, aku ingin nanti anakku jadi orang yg besar jgn seperti aku’’
Subhanallah sekali, padahal dia waktu SMP anak yang pemalas, ga pernah ngerjain PR. Tapi seriring berjalannya waktu dan keluarga kecilnya lah yang membuat dia berubah. Berubah menjadi laki-laki dewasa yang berjuang demi keluarga.
Dani, si penjual Koran… setelah SMA dan meneruskan kuliah di salah satu perguruan tinggi, dia bekerja sambil kuliah. Dia bercerita tak pernah meminta uang kepada kedua orangtuanya, biasanya uang yang dikasih ke orangtuanya ditabung dan untuk modal jualan tempe yang di jual keliling setiap pagi… hati ku terhenyak ketika di bercerita tentang riwayat kehidupannya. Sekarang dia lagi tahapan menyelesaikan skripsi. Katanya dia april ini mau mengajukan sidang tahap akhir. Semoga sukses yaa… oia dia yang paling alim dari semua teman-temannya disitu. Katanya dia kalau waktu sholat selalu pulang dulu, dan selalu memberikan petuah-petuah untuk erik dan teman-temannya si pengamen tadi.

dari kisah teman-temanku, aku bersyukur dalam hidupku, iya...hidup yang perkecukupan. hidup penuh kebahagian, tak sampai menjalani kerasnya jalan. tapi inilah hidup setiap manusia di beri rejekinya masing-masing, tugas kita berbagi. yang mampu berbagi dengan yang kurang mamu, dan yang kurang mampu menerima apa yang diberi oleh yang mampu.
disinilah ada keseimbangan hidup. 
  
Yaaa itu tadi sekelumit cerita,, semoga bisa diambil hikmahnya


Batu, 10 April 2013

Komentar

Postingan populer dari blog ini

check up

lagi-lagi dan lagi, agenda tahunan, hmmm ini bukan agenda rapat LPJ tahunan organisasi ya, tapi ini agenda tahunan aku periksa / check up ke dokter kandungan alias obgyn, selain ke dokter mata dan dokter gigi.  *tutup mata *tutup telinga  tutup mata karena memang harus ngeluarin duit banyak dan tutup telinga, karena aku selalu paranoid terus sebelum check up.  lanjut cerita yuk, memang sudah hampir 4 atau 5 tahun ini saya selalu check up ke dokter kandungan,  berawal dari saya tida kedatangan ''tamubulanan'' selama 2 bulan, biasanya teratur, kok ini ga teratur yaa...*mikir dalam benakku, mesti ada-apa. oia, saya biasa periksa ke dr. Siti candra, dulunya tempat prakteknya kecil, tapi sekarang sudah gede, sudah berdiri rumah sakit yang dinamain, RSIA Galeri Candra. yang ngasih info ya mba hida. dulu, awal kesana ditanya anamnesa, kemudian di periksa USG, ternyata ga ada apa-apa, legaaaaaa rasanyaaa.... pikirku, ga di kasih ...

Hijab Ku *_*

Bismillah Jilbab yang pertama kali saya kenakan yaitu disaat selesai menempuh pendidikan di bangku SMA, tepatnya setelah pengumuman kelulusan. Di awal memakai jilbab, saya tidak memiliki motivasi apapun, hanya ingin memakai saja. Ketika itu pula tidak berfikir bahwa jilbab merupakan kewajiban bagi seorang muslimah. Sebagian orang berfikir matang-matang sebelum memakai jilbab, bahkan banyak pula yang mengatakan akan berjilbab hati dulu sebelum berjilbab sebenarnya. Sejujurnya kurang setuju dengan pendapat tersebut, secara rasional bagaimana caranya berjilbab hati, kalau berjilbab tubuh jelas bisa dengan pakaian hijab. Namun apapun pendapat orang harus kita hargai. ^_^ Sebenarnya latar belakang keluarga saya bukan dari keluarga islam murni, keluarga besar ibu menganut agama nasrani dan keluarga ayah menganut agama islam, setelah lulus SD hijrah ke kota malang dan hidup bersama ayah, dari sinilah kehidupan baru dimulai, dengan dimulai belajar agama islam sedikit demi sedik...

Bogor

sudah ketiga kalinya aku menginjakan di bumi Bogor, tapi baru kali ini merasa menikmati kota ini. kota yang nyaman penuh kedamaian, memberikan kesan. orangnya baik dan ramah, hawanya panas ga panas,  masih asri, belum banyak terkontaminasi.. ah jadi pingin punya rumah di sini dan tinggal di Bogor :)) apalagi jauh dari malang, bogor jadi pengganti kerinduanku tentang malang. terimakasih Bogor... besok-besok ke Bogor lagi lah kalau lagi kangen malang. aamiin,,, di jakarta jenuh...