namanya Alsya, gadis kecil cantik nan kritis. dia adalah anak bimbinganku, duduk di kelas 2 SD.
tak seperti anak-anak lainnya, dia benar-benar anak yang kritis,
contohnya,
me : Alsya, Alsya sudah sholat belum dek?
she : hmm,, sholat ya? buat apa sih sholat?, kenapa alsya harus sholat mbak?
me agak sedikit shok dengan pertanyaan yang dia ajukan, dan
aku pun menjawab :
me : alsya nafas gratis ngak?
a;sya : iya mba
me : alsya masih punya mama dan papa yang selalu sayang alsya?
alsya : iya mba
me : alsya punya teman-teman yang selalu bermain sama alsya?
alsya : iya mba
me : nah, itu semua yang ngasih siapa? itu yang ngasih ALLAH bukan?
Allah sayang sama Alsya... jadi Alsya harus bersyukur, nah wujud dari bersyukur itu sholat.
alsya : iya deh iyaaa... kemudian diam
--------------------------------------------
biasanya setelah bimbingan di rumahnya Alsya, saya berdiksusi dengan mamanya,
mama seorang ibu rumah tangga sekaligus mempunyai home industri. jadi banyak intensitas pertemuan dengan anak.
ternyata, saat pemilihan sekolah dimana Alsya sekolah sekarang, mamanya melibatkan dia dalam pemilihan sekolah, Alsya di ajak ke 3 sekolah tersebut, dan sesampainya di rumah, di disuruh memilih
bunda : alsya, tadi sudah ke 3 sekolah, jadi alsya milih yang mana?
*bunda menjelaskan satu persatu kelebihan dan kekurangan dari sekolah tersebut, jauh dan dekatnya, sebagai pertimbangan untuk alsya*
alsya : alsya milih yang ini (sekolah alam)
bunda : kenapa alsya milih yang ini?
alsya : karena alsya suka mamaaa... di alam mamaa...
bunda : ya sudah, alsya sudah memilih sekolah ini ya, alsya harus rajin, dan ga boleh pindah sekolah, ini pilihan alsya sendiri lho ya...
dari cerita ini, saya jadi mikir, wow subhanallah, anak sekecil ini sudah diajarkan mengambil keputusan,
berani berbuat berani bertanggung jawab.
bundanya alsya memang cukup cerewet,
dalam pemilihan baju di rumah pun juga alsya yang memilih
bunda : sejak kecil memang saya ajarkan begitu mba, setelah mandi, alsya langsung ke kamar dan memilih baju sendiri, kemudian saya bertanya ke dia ''alsya kenapa milih baju ini?'',
jadi dia saya ajak selalu berfikir, tidak hanya di cekokin saja.
uang jajan pun juga begitu, cukup tidak cukup saya kasih uang segini, dia sering protes, tapi kalau masalah uang ya harus bisa memanage dan menabung.
Ketika anak terjatuh karena kurang hati-hati dalam berjalan, biarkan ia merasakan prosesnya dulu. Rasa sakit saat terjatuh, menangis dalam kesakitan itu, mencari sosok ibu yang siap menolongnya. Jangan cepat-cepat datang untuk menghiburnya apalagi menyalahkan atau memukul benda atau pihak lain. Ajari anak untuk tahu bahwa rasa sakit yang dialaminya itu akibat ia kurang berhati-hati. Katakan ini dengan suara lembut yang memberikan rasa aman. Berikan solusinya juga sehingga anak tidak larut dalam tangisnya.
“Adik jatuh, sakit ya? Tidak apa-apa. Anak hebat nangisnya tidak lama. Yuk, berdiri lagi. Sekarang, lebih berhati-hati ya jalannya.”
Kalimat penguatan semacam ini akan masuk ke dalam memori anak. Ia akan belajar mendefinisikan rasa dalam hal ini rasa sakit. Ia juga belajar konsep baru bahwa menangis boleh cuma tidak perlu lama atau bahkan berlarut-larut. Bila berjalan, ia akan berusaha berhati-hati agar tidak terjatuh lagi. Tidak ada satu pihak pun yang disalahkan dalam hal ini termasuk dirinya. Jatuh bukan kesalahan. Jatuh adalah proses pembelajaran. Dengan kalimat positif semacam ini diharapkan anak akan menjadi pribadi yang lebih baik dan tidak mudah menyalahkah orang lain dalam proses kehidupannya kelak
itu salah satu pertanyaan sepele yang diajukan anak-anak, masih banyak lagi pertanyaan dari Alsya yang menimbulkan detak kagum sekaligus kliyengan untuk menjawab.
saya jadi mikir, ya ampun, ternyata jadi ibu atau orang tua itu susah susah gampang ya, perlu ilmu yang banyak. belajar Parenting.
memang benar pepatah bilang, ''perempuan tiang negara"
perempuan adalah calon ibu, mendidik generasi masa depan, seorang presiden, pemimpin terlahir dari rahim seroang ibu, nah pendidikan awal inilah yang akan menancap dalam memori anak,
kita semua ikut bertanggung jawab terhadap nasib negeri ini, bangsa ini. Harus ada perubahan dalam cara kita menyikapi permasalahan. Sebelum kita menularkannya ke anak-anak, seharusnya diri sendiri dulu yang berubah. Tidak mudah memang, tapi bisa kita usahakan.
Batu, 8 Juni 2014
Minggu, 11.11
.
.
Komentar
Posting Komentar