Ya alloh aku galau…:(
Diam dalam kegalauan untuk mencapai cahaya jalan keluar.
Kegalauan ini muncul seusai ramadhan kemarin. Renungan2 yg bergejolak di hati dan pikiran ku saat ramadahn untuk memperbaiki diri dan menatap masa depan sangat membingungkan dan aku bingung mulai dari mana..
Mungkin dari awal kalimat 1 paragraf tadi sudah terbaca kegalauan ku.
Dan mungkin ini jawaban dan hasil dari kegalauan ku selama ramadhan dan sampai 1 minggu perkuliahan.
Yang pertama, aku merasa saat ramadhan sudah terakhir merasa belum maksimal beribadah. Dan menyia-yiakan waktu kemarin, akhirnya menyesal, merasa kehilangan bulan pernuh berkah, ampunan dari Nya.merasa apakah aku akan dipertemukan ramadhan tahun depan? Hal itu salah satu yang membuatku galau. Tapi apa daya, bulan ramadhan kini telah berakhir, memasuki bulan syawal, dan aku yakin akan lebih baik dari hari kemarin, insyalloh akan bertemu ramadhan tahun depan amiin.
Kemudian bertemu dan berkumpul dengan adek-adek ku di rumah eyang ti. kami pun ngobrol-ngobrol tentang sekolah.
Adek ku mulai bercerita tentang alasan dia pingin bgt kuliah di ilmu agama paling ga sastra arab. Karena dia ini ngin ilmunya bermanfaat di dunia dan di akherat, kata dia, yang paling penting adalah iman dan taqwa, hidup di dunia hanya sesaat dan bekal untuk akherat yang kekal abadi. Dia bercerita tentang teman-teman dan gurunya(murrobi) yang telah hafal 30 jus, ada yg dapet beasiswa ke madinah,sukses berwirausaha, walau hidup dengan sederhana.
Sedangkan adek ku yang paling kecil bercerita tentang pondokannya, ustadz yg ada di pondoknya yang hidup penuh dengan kesederhanaan, tetapi menjunjung nilai-nilai keagamaan.Subhanalloh sekali 2 adek ku membuat aku semakin galau dengan tujuan hidup, untuk apa aku hidup, masa depanku, jodoh dan rejeki, kuliah, seberapa iman ku, apa yang susah aku perbuat selama hidupku,,, ya alloh aku galau.
Hasil dari semua pertanyaan itu aku mulai berfikir, aku hidup hanya untuk ALLOH, hati dan fikiran ku harus hanya untukNya, mungkin kemarin aku suka sama seseorang dan kepikiran terus, sekarang mulai mengubah untuk mencintaiNya, kalau suka sama seseorang hanya bisa diam, Cukup cintai dia dalam diam..Bukan kerana membenci hadirnya,tetapi menjaga kesucinnya bukan kerana menghindari dunia, tetapi meraih surgaNYA.Bukan karena lemah untuk menghadapinya, tetapi menguatkan jiwa dari godaan syaitan yang begitu halus & menyelusup.Cukup Cintai dia dalam diam. Kerana hadirmu tiada kan mampu
menjauhkannya dari ujian. Kerana hadirmu hanya akan menggoyahkan iman &ketenangan.Kerana mungkin sajakan membawa kelalaian hati-hati yang terjaga.
Selalu ku berdoa, lapangkan lah hatiku dan bersihkan lah hati ku agar hanya alloh saja yang ada dalam relung hati paling dalam agar menjadi hati sebening mata air.
tentang kesederhanaan, ya sederhana. Pesan dari ayah harus hidp sederhana walau mampu,ini salah satu dialog aku dan ibu
ibu : ‘’mbak (panggilan ibu ke aku) beli mesin cuci ya untuk rumah di malang kan kmu sendirian biar enak ga usah cuci capek2..
aku pun menjawab : ‘’ndak usah ibu, kan alloh sudah menyediakan air, matahari dan angin dan ke dua tangan untuk kita mengeringkan pakaian,tinggal kita cuci dengan tangan saja’’.
Dan kakak ku juga ingin member ku hp yg lumayan canggih yang sekarang lgi trend di kalangan anak muda, tapi aku ga mau karna aku ga bisa pakai dan malas untuk memakai barang yang agak canggih. Aku berfikir yg penting bisa di buat telpon dan sms. Itu sudah cukup bagiku, yang penting berfaat, hp blackberry yang akan di berikan ke aku tolak,karna memang aku tak suka, dan akhirnya di beri hp yg agak biasa.alhamdulillah.
Dan yang paling menggugah hati ku saat mendengar dialog ibu dan adek ku.
Ibu : ‘’na, mau uang saku ngak? Adek ku menjawab : ngak buk, Alhamdulillah masih cukup, ibu: ow ya sudah klo bgtu
keesokan harinya ibu ku Tanya lagi ke adek ku :’’ na beneran ga mau ibu kasih uang ta?’’
Dengan jawaban yang tetap adek ku pun menjawab : ndak buk, kan udah nana bilang klo uang nya masih cukup.
Ibu ku tertegun dan menjawab: ‘’hmmm ya sudah klo gtu ibu simpen aja’’!
Dan untuk ketiga kalinya alias hari saat adek ku akan balik untuk menuntut ilmu,
ibu bertanya lagi : ‘’na, ini uang nya bener2 ndak ta?
Dan adek ku tetap menjawab:’’tidak bu.,
ibu ku berkata :’’aduh na..di kasih uang kok ga mau, y awes ini ibu kasih(sambil meletak kan uang di kantong adek ku) simpen dengan baik, ….bla bla blaa dst
Dari 3 kali dialog tersebut aku tertegun dengan sikap adek ku, bener-bener hidup cukup saja dan penuh dengan kesederhaanaan, kalau anak jaman sekarang di kasih uang ibu nya ya langsung di terima dengan senang hati.
tak begitu dengan adek, dan hal itu mengajarkan ku agar tetap bersyukur dan hidup cukup saja tak berlebih dan berkurang.
Aku merasa malu dengan diriku sendiri, ke dua adek ku yang usianya jauh di bawah ku telah mengajarkan ku banyak hal tentang hidup ini, ku berfikir saat seusia mereka aku belum bisa berfikir sejauh itu, malu rasanya sebagai kakak belum bisa mengajarkan dan membina adek-adek ku dengan baik.
Ya alloh aku galau, belum lagi aku sekarang sudah semester 7 dimana merupakan mahasiswa tingkat akhir. Di benak ku sudah ada konsep tentang apa yang akan aku teliti , tetapi bidang yang aku akan ambil sulit dalam pencarian referensi, dan sudah aku konsultasikan ke dosen, tapi dosen pun menyarankan aku untuk penelitian di bidang yang lain, hmmm rasa nya sakit sekali ditolak konsep yang aku fikirkan selama ini dan harus mulai Nol lagi, tapi tak apa-apa mungkin alloh sedang punya rencana lain untuk hambaNya,
Yang terpenting adalah kita berusaha,sabar,berdoa,pasrah dan ikhlas kepadaNya, insyaalloh keajaiban, dan cahaya petunjuk dari alloh akan datang. Aku yakin itu.
Untuk kegalauan selanjutnya merasa jenuh untuk mengikuti organisasi, padahal masih banyak amanah yang belum selesai, malas untuk rapat dan melakukan hal-hal di organisasi, sehingga 1 minggu pertama masuk kuliah setelah liburan ini aku menjauh dari dunia kampus, karena aku merasa bosan, ya begitulah rasanya tak bisa diungkapkan, tapi aku sadar tak boleh begitu karena yang namanya amanah itu akan dipertanggungjawabkan di akherat. Yang membuat tetap disini adalah adek-adekku di organisasi yang memotivasi dan mengingatkan aku untuk tetap semangat, terimakasih
Inti dari cerita dan kegalauanku yaitu bersyukur dan memperbaiki diri menjadi hamba yang lebih baik.
Pernahkah kita membaca surat Ar-Rahman? Satu hal yang menarik dari kandungan surat ar-Rahman adalah adanya pengulangan satu ayat yang berbunyi “fabiayyi ala i rabbikuma tukadziban” (Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?). Kalimat ini diulang berkali-kali dalam surat ini. Apa gerangan makna kalimat tersebut?
Surat ar-Rahman bagi aku adalah surat yang memuat retorika yang amat tinggi dari Allah. Setelah Allah menguraikan beberapa ni’mat yang dianugerahkan kepada kita, Allah bertanya: “Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Menarik untuk diperhatikan bahwa Allah menggunakan kata “dusta”; bukan kata “ingkari”, “tolak” dan kata sejenisnya. Seakan-akan Allah ingin menunjukkan bahwa ni’mat yang Allah berikan kepada manusia itu tidak bisa diingakri keberadaannya oleh manusia. Yang bisa dilakukan oleh manusia adalah mendustakannya.
Dusta berarti menyembunyikan kebenaran. Manusia sebenarnya tahu bahwa mereka telah diberi ni’mat oleh Allah, tapi mereka menyembunyikan kebenaran itu; mereka mendustakannya!
Bukankah kalau kita mendapat uang yang banyak, kita katakan bahwa itu akibat kerja keras kita, kalau kita berhasil menggondol gelar Ph.D itu dikarenakan kemampuan otak kita yang cerdas, Pendek kata, semua ni’mat yang kita peroleh seakan-akan hanya karena usaha kita saja. Tanpa sadar kita lupakan peranan Allah, kita sepelekan kehadiran Allah pada semua keberhasilan kita dan kita dustakan bahwa sesungguhnya ni’mat itu semuanya datang dari Allah.
ingatlah–baik kita dustakan atau tidak–semua ni’mat yang kita peroleh hari ini akan ditanya oleh Allah nanti di hari kiamat!
“Sungguh kamu pasti akan ditanya pada hari itu akan ni’mat yang kamu peroleh saat ini” ( QS 102:8 )
Sudah siapkah kitaa menjawab serta mempertanggung jawabankannya ???
Allah berfirman : FAIN TAUDDU NI’MATALLAHI LA TUKHSUUHA
Apabila kamu menghitung nikmat Allah ( yang diberikan kepadamu ) maka engkau tidak akan mampu (karena terlalu banyak).
Tidak patutkah kita bersyukur kepadaNYA, Mari mengucap Alhamdulillah sebagai bagian dari rasa syukur kita, serta mempebaiki diri untuk menjadi manusia yang bermanfaat untuk agama, bangsa, dan keluarga serta Allah menjadikan Ramadhan kita di tahun ini lebih bermakna dari yang sebelumnya. Semoga kita senantiasa mendapatkan barokah dan sesnantiasa istiqomah di jalanNya sebagai bekal untuk akherat nanti. amiin
Komentar
Posting Komentar