Langsung ke konten utama

Baitullah

Bismillaahirrahmanirrahim,


"Mau mengunjungi Baitullah (haji dan umrah) itu kuncinya satu, Mba. Keyakinan. Yakin sama pertolongan dan kuasa Allah."

Saya ini cuma tukang pel masjid, Mba. Sehari-hari kerjaannya ya bersih-bersih masjid, ngepel, ngosek WC. Makanya begitu teman-teman seperjalanan tahu pekerjaan saya, mereka menangis, Mba.

Kelihatannya memang mustahil ya, Mba. Tapi semenjak saya pergi umrah beberapa waktu lalu, saya jadi semakin yakin, bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah. Asal kita yakin, asal ikhtiar kita pun sejalan dengan keyakinan kita itu, insyaAllah, pertolongan Allah itu datang.

Saya memang sudah sangat kepengen ke Baitullah, Mba. Wong waktu itu saya sampe pernah ngguyoni(mencandai) teman.

"Wong saben dina ngrumat anake kok, insyaAllah yo mengko iso ketemu Ibune."
(Setiap hari merawat anaknya, insyaAllah suatu waktu bisa bertemu ibunya).
[Maksud beliau: Setiap hari beliau membersihkan masjid, jadi insyaAllah suatu hari pun beliau akan bisa mengunjungi ibunya para masjid; Masjidil Haram dan Masjid Nabawi]

Alhamdulillaah, Mba, saya sendiri merasa proses keberangkatan saya ini seperti dipercepat. Ceritanya begini, Mba. Beberapa bulan lalu, saya berniat mau memperbaiki atap rumah yang bocor. Bocornya lumayan parah, Mba, jadi saya siapkan uang 5 juta hasil jualan tahu bakso. Sebelum itu, saya minta ijin dulu sama istri, mau menggunakan uang sebesar itu untuk membetulkan genteng. Tapi ternyata, respon istri saya lain, Mba.

"Kalo buat mikirin rumah memang ndak ada habisnya, Pak. Uangnya Bapak pake aja buat modal Umrah. Sudah, biar Bapak dulu yang berangkat. InsyaAllah nanti ada jalan buat melunasi kekurangannya."

Saya sempat kaget dengan respon istri saya itu, Mba. Wong modal cuma 5 juta kok mau berangkat ke tanah suci. Saya mikir gimana cara melunasi kekurangannya yang jumlahnya sekitar 20 juta. Tapi, kemudian saya teringat nasehat salah seorang Ustadz yang biasa ngisi kajian tentang haji dan umrah, bahwa kunci berangkat ke Baitullah adalah yakin. Setelah kejadian itu, saya langsung setorkan uang 5 juta untuk modal Umrah mba, walaupun saya juga ndak tahu pasti, gimana cara melunasinya.

Qadarallaah, Mba. Pertolongan Allah itu memang dekat. Hanya dalam hitungan bulan, saya sanggup melunasi biaya Umrah dari hasil jualan tahu bakso. Saya juga sempat heran, Mba. Kok bisa ya? Dalam hitungan bulan saja lho, Mba, keuntungan hasil jualan tahu bakso saya bisa tembus angka belasan juta. Itu kalo pake kalkulatornya manusia ya ndak bakalnyandhak -nyampe- Mba.

Salah seorang dokter yang juga ta’mir masjid ini bahkan sampai menangis mendengar cerita saya. Lha wong niat awal cuma mau membetulkan genteng kok ternyata malah sampai ke Baitullah. Beliau sampe bilang begini,

"Memang ya Pak, ukuran cukup dan mampu itu berbeda-beda…"

Mulai sekarang, mantapkan dulu keyakinan itu, Mba. Kalo cuma kepengen tapi ndak ada usaha ya memangndak akan nyampe-nyampe, rasanya bakal mustahil terus. Coba membuat celengan khusus buat berangkat kesana, Mba. Kalo kata seorang Ustadz, pola pikir masyarakat itu banyak yang salah. Mereka berpikir kalo pergi haji atau umrah itu nanti saja setelah keluarga sudah mapan, anak-anak sudah berkeluarga, dan masa tua sudah tenang. Lha iya kalo kita kebagian masa tua. Padahal seharusnya, di saat kita dihadapkan pada berbagai masalah seperti ini, kita harus lebih banyak mengadu, bahkan kalo bisa ya mengadu langsung disana, biar semakin ijabah.

Subhanallaah, Mba, alhamdulillaah. Sekali lagi, semua ini semata-mata karena pertolongan Allah. Saya merasakan pertolongan Allah itu dekat sekali, sehingga saya diberi kesempatan mencium Hajar Aswad sampai 3 kali, padahal disana kondisinya sangat penuh sesak. Belum lagi sepulang dari sana, entah kena angin apa, lha kok tiba-tiba teman seperjalanan saya ada yang menawarkan investasi untuk usaha tahu bakso. Saya merasa rezeki itu benar-benar digantikan Allah, Mba. Apalagi kalau sudah merasakan bagaimana keadaan disana, maka uang puluhan juta itu rasanya seperti tidak ada apa-apanya, sebab rindu saya telah terbayar. Alhamdulillaah…

***

Saya speechless. Malu. Maluuuu banget. Kenapa? Sebab saya pun sama merindunya. Tapi dimana-mana, rindu selalu butuh pembuktian, kan? Bapak itu sudah membuktikan bagaimana cara mengobati kerinduannya. Barakallaah, Pak. Semoga saya menyusul. Dengan segera. :’)

"Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh kepada (mencari keridhaan) Kami, maka benar-benar akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami…"

[QS. Al-Ankabut: 69]

Based on true story by nina.

 Selamat merenung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

check up

lagi-lagi dan lagi, agenda tahunan, hmmm ini bukan agenda rapat LPJ tahunan organisasi ya, tapi ini agenda tahunan aku periksa / check up ke dokter kandungan alias obgyn, selain ke dokter mata dan dokter gigi.  *tutup mata *tutup telinga  tutup mata karena memang harus ngeluarin duit banyak dan tutup telinga, karena aku selalu paranoid terus sebelum check up.  lanjut cerita yuk, memang sudah hampir 4 atau 5 tahun ini saya selalu check up ke dokter kandungan,  berawal dari saya tida kedatangan ''tamubulanan'' selama 2 bulan, biasanya teratur, kok ini ga teratur yaa...*mikir dalam benakku, mesti ada-apa. oia, saya biasa periksa ke dr. Siti candra, dulunya tempat prakteknya kecil, tapi sekarang sudah gede, sudah berdiri rumah sakit yang dinamain, RSIA Galeri Candra. yang ngasih info ya mba hida. dulu, awal kesana ditanya anamnesa, kemudian di periksa USG, ternyata ga ada apa-apa, legaaaaaa rasanyaaa.... pikirku, ga di kasih ...

Hijab Ku *_*

Bismillah Jilbab yang pertama kali saya kenakan yaitu disaat selesai menempuh pendidikan di bangku SMA, tepatnya setelah pengumuman kelulusan. Di awal memakai jilbab, saya tidak memiliki motivasi apapun, hanya ingin memakai saja. Ketika itu pula tidak berfikir bahwa jilbab merupakan kewajiban bagi seorang muslimah. Sebagian orang berfikir matang-matang sebelum memakai jilbab, bahkan banyak pula yang mengatakan akan berjilbab hati dulu sebelum berjilbab sebenarnya. Sejujurnya kurang setuju dengan pendapat tersebut, secara rasional bagaimana caranya berjilbab hati, kalau berjilbab tubuh jelas bisa dengan pakaian hijab. Namun apapun pendapat orang harus kita hargai. ^_^ Sebenarnya latar belakang keluarga saya bukan dari keluarga islam murni, keluarga besar ibu menganut agama nasrani dan keluarga ayah menganut agama islam, setelah lulus SD hijrah ke kota malang dan hidup bersama ayah, dari sinilah kehidupan baru dimulai, dengan dimulai belajar agama islam sedikit demi sedik...

Bogor

sudah ketiga kalinya aku menginjakan di bumi Bogor, tapi baru kali ini merasa menikmati kota ini. kota yang nyaman penuh kedamaian, memberikan kesan. orangnya baik dan ramah, hawanya panas ga panas,  masih asri, belum banyak terkontaminasi.. ah jadi pingin punya rumah di sini dan tinggal di Bogor :)) apalagi jauh dari malang, bogor jadi pengganti kerinduanku tentang malang. terimakasih Bogor... besok-besok ke Bogor lagi lah kalau lagi kangen malang. aamiin,,, di jakarta jenuh...