Keduanya berkenalan..kemudia berteman...
Hanya ada kata, hanya ada bahasa, lalu canda tawa pun menghiasi.. ada keselarasan yang tak dapat diungkapkan..
Kali pertama.. tak ada yang menyangka, tak ada yang menduga.. bahkan oleh keduanya.. seperti kuncup pohon yang tak sabar melihat dunia..
Lalu muncul suara.. begitu menenangkan hati seakan tahu.. begitu menyamankan hati seakan mengerti..
Suara itu semakin jelas.. begitu menyamankan seakan memahami hati.. begitu menenteramkan seakan menyatu.. seperti mentari yang menyinari daun..
Keduanya tak banyak bicara.. keduanya diam.. keduanya tak banyak membuka hati.. keduanya merasa malu.. seperti kuncup bunga di antara daun..
Tetapi keduanya punya perasaan yang sama.. yang mungkin tak sempat dan tk pernah diutarakan keduanya.. hanya menduga dalam hati.. menunggu dalam diam..
Perasaan itu pun semakin terasa..
Keduanya bertahan..tetap bertahan untuk diam...keduanya saling meyakinkan.. Namun, tak ada pelangi jika tak ada hujan..
Keduanya goyah.. bimbang antara keyakinan dan waktu.. bimbang antara impian dan kehidupan yang harus dijalani, sementara hati tak kuasa menanti.. eaaa
Jarak pun semakin terasa jauh.. waktu tak lagi mau menanti.. rasa itu perlahan terlupa, tergantikan harapan semu yang tak lagi memiliki arti..
Kehampaan, kegelisahan, rasa sakit.. yang tak pernah bisa terelakkan karena tertahannya perasaaan.. yang tak lagi bisa disampaikan.. sepi.. sunyi..
Hanya satu keyakinan yang ada, keyakinan mereka berdua.. ''bahwa takdir akan mempertemukan keduanya.. bahwa masa depan akan menjadi jawaban keduanya.. keyakinan untuk bertemu kembali dalam tali suci''
Ya, keduanya bertemu.. takdir begitu baik.. rasa itu tak lagi sama.. tak lagi diam dan membisu.. ia hidup dalam dasar hati keduanya.. walau hanya dalam diam..
Dan takdir semakin baik.. keduanya bertemu lagi.. dan rasa itu semakin jelas terasa.. hanya sajaa.. keduanya tetap diam, berharap saling mengerti.. berharap pada takdir..
Ya, lagi-lagi hanya takdir.. yang bisa membuat keduanya benar-benar memahami.. bahwa mungkin ada yang lebih daripada sebuah takdir..
Bahwa ada yang lebih daripada sekedar rasa dalam diam.. ada yang lebih daripada sekedar menunggu dalam hampa.. ada yang lebih daripada sekedar cinta dalam harap..
Sebegitu sempitnya kah?
Sebegitu tak berdayanya kah? sampai hanya waktu dan takdir yang tersisa..
Lalu ke mana keduanya kan berarah? dalam takdir yang diyakini.. dalam harap.. dalam rasa.. dalam keyakinan.. dalam diam..
Harapan itu jelas ada.. keduanya menanti tepatnya waktu.. keduanya menanti wujud rasa itu.. walau tak berbahasa.. walau tak bersuara..
Karena keduanya yakin.. karena keduanya percaya.. karena keduanya saling mencinta dengan rasa dan keteguhan hati.. walau hanya dalam diam..
Ya, keduanya saling mencintai dalam diam.. dalam diam..
Jarak pun semakin terasa jauh.. waktu tak lagi mau menanti.. rasa itu perlahan terlupa, tergantikan harapan semu yang tak lagi memiliki arti..
Kehampaan, kegelisahan, rasa sakit.. yang tak pernah bisa terelakkan karena tertahannya perasaaan.. yang tak lagi bisa disampaikan.. sepi.. sunyi..
Hanya satu keyakinan yang ada, keyakinan mereka berdua.. ''bahwa takdir akan mempertemukan keduanya.. bahwa masa depan akan menjadi jawaban keduanya.. keyakinan untuk bertemu kembali dalam tali suci''
Ya, keduanya bertemu.. takdir begitu baik.. rasa itu tak lagi sama.. tak lagi diam dan membisu.. ia hidup dalam dasar hati keduanya.. walau hanya dalam diam..
Dan takdir semakin baik.. keduanya bertemu lagi.. dan rasa itu semakin jelas terasa.. hanya sajaa.. keduanya tetap diam, berharap saling mengerti.. berharap pada takdir..
Ya, lagi-lagi hanya takdir.. yang bisa membuat keduanya benar-benar memahami.. bahwa mungkin ada yang lebih daripada sebuah takdir..
Bahwa ada yang lebih daripada sekedar rasa dalam diam.. ada yang lebih daripada sekedar menunggu dalam hampa.. ada yang lebih daripada sekedar cinta dalam harap..
Hanya waktu kah yang mampu menjadi jawaban?
Sebegitu sempitnya kah?
Sebegitu tak berdayanya kah? sampai hanya waktu dan takdir yang tersisa..
Lalu ke mana keduanya kan berarah? dalam takdir yang diyakini.. dalam harap.. dalam rasa.. dalam keyakinan.. dalam diam..
Harapan itu jelas ada.. keduanya menanti tepatnya waktu.. keduanya menanti wujud rasa itu.. walau tak berbahasa.. walau tak bersuara..
Karena keduanya yakin.. karena keduanya percaya.. karena keduanya saling mencinta dengan rasa dan keteguhan hati.. walau hanya dalam diam..
Ya, keduanya saling mencintai dalam diam.. dalam diam..
ya sudah lah... diam... terus sampai kapan??????
Komentar
Posting Komentar