Langsung ke konten utama

Nanny

sejak awal disini dan beberapa hari ini saya mengamati ruko di sebelah tempat saya koass...
beberapa hari ini saya lagi dapat bagian di sunter 2 (lab. patologi klinik, dan rawat inap 2). 
jam istirahat pun tiba, biasa balik ke kamar (sunter 1) untuk sholat dll. 
nah, sering saya melihat anak-anak diantar jemput bawa mobil mewah masuk ke ruko samping klinik, ternyata itu tempat les B.inggris. yang saya amati adalah anak-anak dan beberapa orang yang mengantar jemput anak-anak itu. hari demi hari saya amati, kok  hampir 90% anak -anak tersebut diantar sama supir dan nanny nya alias perawat anak,,, mesti papa mamanya lagi sibuk kerja, dan cuma di lesin...saya terkadang merasa kasian terhadap anak-anak SD yang masih kecil sudah harus Les disuatu lembaga. ya kalau SMA gpp lah... ini masih SD, pulang sekolah capek siangnya langsung ke tempat les, anak SD, adalah anak-anak yang masih ingin belajar sambil bermain, lha kok ini udah di jejal-jejal pelajaran yang malah nantinya bikin anak menjadi pusing, dan study oriented. apalagi yang mendampingi bukan ibunya melainkan pembantunya dan supir, 
sebenernya anaknya siapa? anaknya pembantu atau anaknya sendiri, 
harta sih boleh lah, tapi anak juga butuh perhatian bukan hanya materi semata.
anak ''ma, kalau cincin dan perhiasan mama di ambil pembantu mama gimana?
mama : ''marah lah, itu kan barang berharga bagi mama.''
anak : ''tapi aku sama pembantu terus, mama ga pernah marah''
mama : terdiam 
anak : ''berati aku tidak berharga bagi mama?''
mama : diam membisu
analoginya kan seperi itu.  
itu sih yang bisa saya ambil hikmah dari melihat anak-anak yang di samping ruko.

jadi mikir nanti kalau sudah berkeluarga ingin seperti mbak rismi (istrinya mas sepupuku yang ada di jogja), jadi dia ga ninggalin anaknya (Rafa), kerja sih tetep kerja, tapi kerja yang masih bisa antar dan jemput anak, mba rismu, kerjanya dari jam 08.00-14.00 jadi selebihnya mengurus keluarga. ingin seperti tante asni, menjadia ibu rumah tangga dan buka usaha kripik di rumahnya. masih bisa tetap bekerja dan mengurus, mengontrol anak di rumah.

ini beberapa tulisan yang pernah saya tulis mengenai masa depan untuk anak, dan terkait anak-anak




selamat membaca, semoga bermanfaat :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

check up

lagi-lagi dan lagi, agenda tahunan, hmmm ini bukan agenda rapat LPJ tahunan organisasi ya, tapi ini agenda tahunan aku periksa / check up ke dokter kandungan alias obgyn, selain ke dokter mata dan dokter gigi.  *tutup mata *tutup telinga  tutup mata karena memang harus ngeluarin duit banyak dan tutup telinga, karena aku selalu paranoid terus sebelum check up.  lanjut cerita yuk, memang sudah hampir 4 atau 5 tahun ini saya selalu check up ke dokter kandungan,  berawal dari saya tida kedatangan ''tamubulanan'' selama 2 bulan, biasanya teratur, kok ini ga teratur yaa...*mikir dalam benakku, mesti ada-apa. oia, saya biasa periksa ke dr. Siti candra, dulunya tempat prakteknya kecil, tapi sekarang sudah gede, sudah berdiri rumah sakit yang dinamain, RSIA Galeri Candra. yang ngasih info ya mba hida. dulu, awal kesana ditanya anamnesa, kemudian di periksa USG, ternyata ga ada apa-apa, legaaaaaa rasanyaaa.... pikirku, ga di kasih ...

Hijab Ku *_*

Bismillah Jilbab yang pertama kali saya kenakan yaitu disaat selesai menempuh pendidikan di bangku SMA, tepatnya setelah pengumuman kelulusan. Di awal memakai jilbab, saya tidak memiliki motivasi apapun, hanya ingin memakai saja. Ketika itu pula tidak berfikir bahwa jilbab merupakan kewajiban bagi seorang muslimah. Sebagian orang berfikir matang-matang sebelum memakai jilbab, bahkan banyak pula yang mengatakan akan berjilbab hati dulu sebelum berjilbab sebenarnya. Sejujurnya kurang setuju dengan pendapat tersebut, secara rasional bagaimana caranya berjilbab hati, kalau berjilbab tubuh jelas bisa dengan pakaian hijab. Namun apapun pendapat orang harus kita hargai. ^_^ Sebenarnya latar belakang keluarga saya bukan dari keluarga islam murni, keluarga besar ibu menganut agama nasrani dan keluarga ayah menganut agama islam, setelah lulus SD hijrah ke kota malang dan hidup bersama ayah, dari sinilah kehidupan baru dimulai, dengan dimulai belajar agama islam sedikit demi sedik...

Bogor

sudah ketiga kalinya aku menginjakan di bumi Bogor, tapi baru kali ini merasa menikmati kota ini. kota yang nyaman penuh kedamaian, memberikan kesan. orangnya baik dan ramah, hawanya panas ga panas,  masih asri, belum banyak terkontaminasi.. ah jadi pingin punya rumah di sini dan tinggal di Bogor :)) apalagi jauh dari malang, bogor jadi pengganti kerinduanku tentang malang. terimakasih Bogor... besok-besok ke Bogor lagi lah kalau lagi kangen malang. aamiin,,, di jakarta jenuh...