Langsung ke konten utama

masa depan

sebenernya setelah ikut acara TalkShow bedah buku ''Moga Ibu disayang Allah'' by Darwis Tere Liye
dan pembicara lainnya yaitu Ibu Septi Peni Wulandari, dan Yohana. mau langsung ditulis dan di posting, 
tapi apa daya, dikarenakan ujian sistema sama dok ani jadi lebih memilih belajar dulu dan 
hari ini akhirnya saya bisa berbagi tentang apa yang saya dapatkan hari minggu kemarin. 

Subhanallah banyak pelajaran ''parenting''yang bisa saya dapatkan dari sini. 
pembicara pertama adalah bu septi peni wulandari, 
beliau adalah pendiri ''ibu profesional'' dan juga seorang Ibu rumah tangga. Tapi beliau bukan sekedar Ibu rumah tangga yang hanya mengurusi anak-anak dan urusan domestik rumahnya saja. Beliau aktif dalam gerakan pelatihan dan pemberdayaan ibu-ibu di Indonesia.

Sebagai aktivis sosial, ibu Septi telah memperoleh berbagai penghargaan atas kemampuan leadership dan perubahan yang dilakukannya, diantaranya adalah:
Pemenang Danamon Award 2006 sebagai “Individu Pemberdaya Masyarakat”.
* Ashoka Fellowship 2007 sebagai “Woman of Enterpreneur”.
* Tokoh Pilihan Majalah Tempo 2007 sebagai “10 Tokoh yang Mengubah Indonesia”
* Penghargaan Menpora 2007 sebagai “20 Pemuda yang Mengukir Prestasi”.
* Nominator International Enterpreuner of the year dari Ernst and Young tahun 2007
* Ikon 2008 Majalah Gatra untuk bidang ilmu pengetahuan dan Teknologi
* Kartini Award versi majalah Kartini, 2009

Saat ini, ibu Septi mengembangkan beberapa inisiatif pendidikan dan kegiatan sosial, antara lain:
* Jarimatika, metode pembelajaran matematika.
* Abaca-baca, metode belajar membaca.
* Jari Quran, metode belajar Al Quran.
* Padepokan Lebah Putih, sekolah formal ramah anak.
* Komunitas Belajar Cantrik, komunitas para orangtua homeschooling.
* Ibu Profesional, gerakan pelatihan dan pemberdayaan para ibu.

Subhanallah sekali kan prestasi-prestasinya, 
beliau bercerita, ketika dilamar oleh suaminya, suaminya meminta untuk menjadi ibu rumah tangga, 
melepaskan segala title yang beliau dapatkan, (lulusan unpad, dan mendaftar PNS)
Keputusan besar telah beliau ambil, pun tahu resikonya dan tidaklah mudah memang untuk menjalaninya. Dari seorang wanita karier, tiba tiba menjadi seorang ibu rumah tangga yang benar-benar full di rumah mengurusi keluarga. Ternyata, beliau stress dengan segala aktivitas rumah tangga yang monoton. Dulu sewaktu sekolah dan kuliah beliau memiliki aktivitas yang seabreg. beliau merasa hopeless, tak berarti, tak berguna.

karena beliau orangnya tidak bisa diam, buku tentang pendidikan anak, buku parenting, seminar parenting beliau baca dengan lahap. 
semangatnya belajar membuat beliau menemukan passion menjadi ibu rumah tangga. 
Sebuah profesi yang (ternyata) harus dilaksanakan dengan profesional layaknya profesi kantoran. Profesi dengan Surat Keputusan, datang langsung dari Sang Maha Pencipta dan gaji yang diterima juga begitu mahal: SURGA.

Ibu Septi selalu berkata dan selalu mengingatkan untuk setiap perempuan baik ibu maupun calon ibu 
''menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah profesi, jadi harus profesional, dengan totalitas, dan kreatif''
''kantor ibu rumah tangga yaitu rumah, buatlah rumah menjadi kantor, jadi pakailah pakaian rapi, bukan daster, tanggalkan daster''
''waktu untuk bekerja di kantor mulai dari jam 07.00-19.00''
langkah-demi langkah, hari demi hari beliau mempunyai ide, kreatif untuk pendidikan anak-anaknya, untuk masa depan anaknya. 
dirumah beliau tidak hanya memasak, bersih-bersih tapi juga mendidik anak yang masih belum sekolah, 


nah dari sinilah, dari setiap harinya berkumpul di rumah, maka beliau mencari-cari bagaimana mendidik anak, karena pendidikan anak dimulai semenjak dini, dan akhirnya dengan tipe pendidikan yang beliau terapkan kepada anak-anaknya, beliau menemukan beberapa penemuan dalam pendidikan anak, contohnya jarimatika, dll.

beliau juga memberikan nasehat pada audiens bahwa, seorang ibu bisa mendidik anak secara langsung dan stimulus anak bagus mulai didalam kandungan - umur 12 tahun, pendidikan utama dipegang oleh sang ibu, 


dari situ kamu dapat menysimulus untuk dia berfikit tentang cita-citanya, bagaimana caranya,
beliau juga mengajarkan anaknya, akhir pekan selalu berpresentasi di tengah keluarga kecilnya, dengan begitu, mendidik anak untuk berkomunikasi dan menyampaikan apa yang anak dapat selama seminggu, 
beliau juga mengajarkan anaknya, dalam 1 bulan selalu ada target, kemudian satu tahun, 5 tahun kemudian dst.

sehingga anak mempunyai semangat untuk mencapai apa yang dia sukai. misalnya, 
anak nya ke 3, elang, dia sedari kecil menyukai robot, dan bercita -cita menjadi robot, sebagai ibu, ibu septi ini menjadi fasilitaor elang untuk mencapai impiannya, 
dan baca ini deh,, tentang prestasi-prestasi anaknya 

kata beliau yang selalu saya ingat.
''karena fitrah seorang wanita berada di rumah, dan fitrah seorang laki-laki di luar
bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhanmu itu''
''Jangan pernah risaukan materi, selama kita bersungguh – sungguh menjaga amanah-Nya. Karena Sang Pemberi Amanah selalu menyiapkan satu paket dengan rezekinya, tugas kita menjemput rezeki itu dengan sungguh-sungguh, dan tetap memprioritaskan diri untuk tetap menjaga amanah-Nya dengan baik''
 beliau menjelaskan bahwa rejeki Allah yang ngatur, jikalau bisa, seorang perempuan bisa membangun usaha di rumah, tak harus keluar rumah untuk berkarier, misalnya, berjualan (buka toko), kalau dokter, buka praktek, ya sesuai dengan passionnya masing-masing. 

mendengar beliau bercerita dan menjelaskan, saya hanya bisa tercengang kagum, 

sejak aku semester 5 memang cita-citaku berubah menjadi ibu rumah tangga, ingin mendidik anak, 
pernah saya tulis di blog, pada tahun 2012, 
dan disini, ikut seminar ini, saya semakin yakin dengan keputusan yang akan saya ambil nanti, tidak berkarier di luar rumah maupun menjadi PNS,
keputusan untuk sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga. 
ibu rumah tangga yang mendidik anak, sekaligus aktif menulis, dan  membuka praktek (klinik hewan), disamping rumah mempunyai panti asuhan, disampingnya lagi ada yayasan untuk anak-anak difabel, InsyaAllah aamiin. 

bagi ku,

menjadi ibu rumah tangga adalah kewajibanku sebagai istri sekaligus ibu,
menjadi penulis adalah passionku,
menjadi dokter hewan adalah pengabdianku untuk profesiku (Veteriner)
dan mempunyai panti asuhan sekaligus yayasan utk anak difabel adalah wujud pengabdianku untuk anak-anak, menjadi bekal untuk akheratku, 
kalau difikir-fikir, umur kita berapa lama? kita kan tidak tau, 
masa waktu ku akan ku habiskan untuk diluar berkarier? oh tentu tidak, waktuku untuk anak-anakku harus lebih banyak, sekarang sudah berumur 23 tahun, quality time untuk anak ya dari lahir sampai umur 12 tahun, setelah itu mungkin anak akan lebih banyak diluar daripada di rumah, anakku kan ku didik dengan tanganku sendiri, 

dan saya pernah mendengar, pepatah, ''wanita adalah tiang negara'

menurut saya pribadi memang benar, karena, setiap pemimpin akan dilahirkan dari rahim seorang perempuan, wanita adalah pribadi yang melahirkan, mengasuh, mengayomi, merawat, mendidik dan mengantarkan generasi bangsa menjadi lebih beradab, bahkan bisa menentukan seorang anak untuk bisa mencapai ‘surga’ itu berawal dari sosok seorang wanita. 
ya kalau perempuannya(ibu) sibuk dengan kariernya, siapa yang mendidik anaknya? karena pendidikan keluarga jauh lebih penting daripada pendidikan formal.

ayo mari, calon-calon ibu, kita persiapkan sedari dini untuk masa depan anak kita kelak :))


ya mulai dari sekarang saya harus banyak belajar dari orang orang yang sudah expert di bidang parenting, kemudian membaca buku parenting, pernikahan, bagaimana pendidikan akhlaq dan agama.

entah kapan pangeranku datang, yang penting saya menyiapkan diri untuk saya dan anak saya nanti 
aamiin :))

dibalik perempuan yang bisa mendidik anak maka ada seorang laki-laki disampingnya yang senantiasa membantu dengan kasih sayang dan perhatiannya, 
karena suami-istri adalah patner dalam keluarga untuk masa depan anak. 
saling melengkapi  untuk membentuk sebuah kesempuranaan keluarga sejati.
kebahagiaan seorang ibu adalah melihat anak-anaknya sukses dalam mencapai impian-impian.

Ya Rabb, ridhoi hamba mu ini untuk mencapai impian-impian, 

Allah, peluk impian-impian hambaMu ini, 


untuk materi dari darwis tere liye menyusul :))

Komentar

Postingan populer dari blog ini

check up

lagi-lagi dan lagi, agenda tahunan, hmmm ini bukan agenda rapat LPJ tahunan organisasi ya, tapi ini agenda tahunan aku periksa / check up ke dokter kandungan alias obgyn, selain ke dokter mata dan dokter gigi.  *tutup mata *tutup telinga  tutup mata karena memang harus ngeluarin duit banyak dan tutup telinga, karena aku selalu paranoid terus sebelum check up.  lanjut cerita yuk, memang sudah hampir 4 atau 5 tahun ini saya selalu check up ke dokter kandungan,  berawal dari saya tida kedatangan ''tamubulanan'' selama 2 bulan, biasanya teratur, kok ini ga teratur yaa...*mikir dalam benakku, mesti ada-apa. oia, saya biasa periksa ke dr. Siti candra, dulunya tempat prakteknya kecil, tapi sekarang sudah gede, sudah berdiri rumah sakit yang dinamain, RSIA Galeri Candra. yang ngasih info ya mba hida. dulu, awal kesana ditanya anamnesa, kemudian di periksa USG, ternyata ga ada apa-apa, legaaaaaa rasanyaaa.... pikirku, ga di kasih ...

Hijab Ku *_*

Bismillah Jilbab yang pertama kali saya kenakan yaitu disaat selesai menempuh pendidikan di bangku SMA, tepatnya setelah pengumuman kelulusan. Di awal memakai jilbab, saya tidak memiliki motivasi apapun, hanya ingin memakai saja. Ketika itu pula tidak berfikir bahwa jilbab merupakan kewajiban bagi seorang muslimah. Sebagian orang berfikir matang-matang sebelum memakai jilbab, bahkan banyak pula yang mengatakan akan berjilbab hati dulu sebelum berjilbab sebenarnya. Sejujurnya kurang setuju dengan pendapat tersebut, secara rasional bagaimana caranya berjilbab hati, kalau berjilbab tubuh jelas bisa dengan pakaian hijab. Namun apapun pendapat orang harus kita hargai. ^_^ Sebenarnya latar belakang keluarga saya bukan dari keluarga islam murni, keluarga besar ibu menganut agama nasrani dan keluarga ayah menganut agama islam, setelah lulus SD hijrah ke kota malang dan hidup bersama ayah, dari sinilah kehidupan baru dimulai, dengan dimulai belajar agama islam sedikit demi sedik...

Bogor

sudah ketiga kalinya aku menginjakan di bumi Bogor, tapi baru kali ini merasa menikmati kota ini. kota yang nyaman penuh kedamaian, memberikan kesan. orangnya baik dan ramah, hawanya panas ga panas,  masih asri, belum banyak terkontaminasi.. ah jadi pingin punya rumah di sini dan tinggal di Bogor :)) apalagi jauh dari malang, bogor jadi pengganti kerinduanku tentang malang. terimakasih Bogor... besok-besok ke Bogor lagi lah kalau lagi kangen malang. aamiin,,, di jakarta jenuh...