Langsung ke konten utama

titik terendah

sadari diri masih banyak kekurangan, masih banyak kekhilafan...
lagi lagi tulisan tentang galau masa depan.
galau menentukan arah... mau kamana, bagaimana jalannya
Sulit rasanya menyadari bahwa hidup di dunia hanyalah sebuah persinggahan. Dengan segala kerumitan yang dimilikinya. Sulit rasanya tidak berfokus pada dunia. Ketika dunia telah membentuk sebuah budaya. Mungkin itulah mengapa Rasulullah SAW mengatakan bahwa orang yang cerdas adalah orang yang selalu ingat kematian. Karena tipu daya dari dunia ini begitu kuat, karena kehidupan yang fana ini begitu nyata. Karena misteri itu terlalu tertutup oleh kabut.
Aku terlahir di dunia ini, membawa sebuah makna, menggariskan sebuah takdir. Aku terlahir membawa sebuah tujuan, yang nantinya akan selalu menjadi tujuan. Namun seiring berjalannya waktu, aku terbentuk oleh dunia ini. Aku memiliki cita, asa, dan mimpi. Aku memiliki hasrat untuk menjalani semua mimpi baruku. Mimpi lama? Masih ada. Namun sulit untuk diingat. Tujuan utamaku perlahan tersisihkan oleh berbagai ambisi yang ada, sebuah ambisi yang dibentuk oleh kehdupan global. Sulit rasanya untuk meninggalkan itu, ketika itulah yang akan membuatmu hidup. Sulit rasanya terbangun dari mimpi ini, ketika aku sudah jauh terlelap dalam angan dan asa.
Namun ada saatnya kita, ketika berada dalam titik terendah hidup kita, akan kembali mengingat-Nya. Serendah itukah manusia? Mengingat Sang Pencipta ketika sedang sulit saja? Mungkin ada, tetapi tidak semua. Satu doaku, jika untuk mengingat Allah SWT aku harus mendapatkan kesulitan dan cobaan, maka aku akan terus meminta untuk diberikan cobaan dan kesulitan. Betapa indah hidup ini, jika kita menyadari secara penuh bahwa ini adalah hidup yang sementara.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

check up

lagi-lagi dan lagi, agenda tahunan, hmmm ini bukan agenda rapat LPJ tahunan organisasi ya, tapi ini agenda tahunan aku periksa / check up ke dokter kandungan alias obgyn, selain ke dokter mata dan dokter gigi.  *tutup mata *tutup telinga  tutup mata karena memang harus ngeluarin duit banyak dan tutup telinga, karena aku selalu paranoid terus sebelum check up.  lanjut cerita yuk, memang sudah hampir 4 atau 5 tahun ini saya selalu check up ke dokter kandungan,  berawal dari saya tida kedatangan ''tamubulanan'' selama 2 bulan, biasanya teratur, kok ini ga teratur yaa...*mikir dalam benakku, mesti ada-apa. oia, saya biasa periksa ke dr. Siti candra, dulunya tempat prakteknya kecil, tapi sekarang sudah gede, sudah berdiri rumah sakit yang dinamain, RSIA Galeri Candra. yang ngasih info ya mba hida. dulu, awal kesana ditanya anamnesa, kemudian di periksa USG, ternyata ga ada apa-apa, legaaaaaa rasanyaaa.... pikirku, ga di kasih ...

Hijab Ku *_*

Bismillah Jilbab yang pertama kali saya kenakan yaitu disaat selesai menempuh pendidikan di bangku SMA, tepatnya setelah pengumuman kelulusan. Di awal memakai jilbab, saya tidak memiliki motivasi apapun, hanya ingin memakai saja. Ketika itu pula tidak berfikir bahwa jilbab merupakan kewajiban bagi seorang muslimah. Sebagian orang berfikir matang-matang sebelum memakai jilbab, bahkan banyak pula yang mengatakan akan berjilbab hati dulu sebelum berjilbab sebenarnya. Sejujurnya kurang setuju dengan pendapat tersebut, secara rasional bagaimana caranya berjilbab hati, kalau berjilbab tubuh jelas bisa dengan pakaian hijab. Namun apapun pendapat orang harus kita hargai. ^_^ Sebenarnya latar belakang keluarga saya bukan dari keluarga islam murni, keluarga besar ibu menganut agama nasrani dan keluarga ayah menganut agama islam, setelah lulus SD hijrah ke kota malang dan hidup bersama ayah, dari sinilah kehidupan baru dimulai, dengan dimulai belajar agama islam sedikit demi sedik...

Bogor

sudah ketiga kalinya aku menginjakan di bumi Bogor, tapi baru kali ini merasa menikmati kota ini. kota yang nyaman penuh kedamaian, memberikan kesan. orangnya baik dan ramah, hawanya panas ga panas,  masih asri, belum banyak terkontaminasi.. ah jadi pingin punya rumah di sini dan tinggal di Bogor :)) apalagi jauh dari malang, bogor jadi pengganti kerinduanku tentang malang. terimakasih Bogor... besok-besok ke Bogor lagi lah kalau lagi kangen malang. aamiin,,, di jakarta jenuh...