Langsung ke konten utama

masa kecil

banyak hal yang tak perlu dipikirkan jauh-jauh hari, tapi kenapa semakin dewasa pikiran semakin rumit saja... ingin kembali ke masa kecil, masa di mana hanya ada tawa dan tangis tak perlu memikirkan apa apa...

saat kecil ingin besar,
saat umur 15 tahun ingin segera berumur 17, masih bersenang senang kesana kemari.
saat berumur 20 tahun sibuk dengan aktifitasnya sendiri dalam pencarian jati diri.
saat berumur 22-24 tahun bingung... teman-teman sebaya sudah banyak yang bekerja, punya anak, dan menikah.
saat berumur 25- dst.... entahlah saya belum merasakannya,,,,

Ketika dewasa, seringkali kita tergoda untuk berimajinasi sebagai anak kecil, begitu juga dengan sebaliknya. Hal itu sepertinya terjadi pada saya. Bisa dibilang, beban sebagai orang dewasa membuat saya kembali menoleh ke belakang. Betapa nikmatnya menjadi anak kecil, snagat bebas, dan apa adanya.

Kata dewasa selalu identik dengan apa kata orang, bagaimana mereka melihat kita, tekanan sosial untuk menjadi apa yang mereka inginkan. Kadangkala saya merasa bosan menjadi seperti itu. Hidup memang harus menjadi diri sendiri, tapi tentu saja tidak bisa melupakan kehadiran orang lain karena kita kita hidup berdampingan dengan orang lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

check up

lagi-lagi dan lagi, agenda tahunan, hmmm ini bukan agenda rapat LPJ tahunan organisasi ya, tapi ini agenda tahunan aku periksa / check up ke dokter kandungan alias obgyn, selain ke dokter mata dan dokter gigi.  *tutup mata *tutup telinga  tutup mata karena memang harus ngeluarin duit banyak dan tutup telinga, karena aku selalu paranoid terus sebelum check up.  lanjut cerita yuk, memang sudah hampir 4 atau 5 tahun ini saya selalu check up ke dokter kandungan,  berawal dari saya tida kedatangan ''tamubulanan'' selama 2 bulan, biasanya teratur, kok ini ga teratur yaa...*mikir dalam benakku, mesti ada-apa. oia, saya biasa periksa ke dr. Siti candra, dulunya tempat prakteknya kecil, tapi sekarang sudah gede, sudah berdiri rumah sakit yang dinamain, RSIA Galeri Candra. yang ngasih info ya mba hida. dulu, awal kesana ditanya anamnesa, kemudian di periksa USG, ternyata ga ada apa-apa, legaaaaaa rasanyaaa.... pikirku, ga di kasih ...

Hijab Ku *_*

Bismillah Jilbab yang pertama kali saya kenakan yaitu disaat selesai menempuh pendidikan di bangku SMA, tepatnya setelah pengumuman kelulusan. Di awal memakai jilbab, saya tidak memiliki motivasi apapun, hanya ingin memakai saja. Ketika itu pula tidak berfikir bahwa jilbab merupakan kewajiban bagi seorang muslimah. Sebagian orang berfikir matang-matang sebelum memakai jilbab, bahkan banyak pula yang mengatakan akan berjilbab hati dulu sebelum berjilbab sebenarnya. Sejujurnya kurang setuju dengan pendapat tersebut, secara rasional bagaimana caranya berjilbab hati, kalau berjilbab tubuh jelas bisa dengan pakaian hijab. Namun apapun pendapat orang harus kita hargai. ^_^ Sebenarnya latar belakang keluarga saya bukan dari keluarga islam murni, keluarga besar ibu menganut agama nasrani dan keluarga ayah menganut agama islam, setelah lulus SD hijrah ke kota malang dan hidup bersama ayah, dari sinilah kehidupan baru dimulai, dengan dimulai belajar agama islam sedikit demi sedik...

Bogor

sudah ketiga kalinya aku menginjakan di bumi Bogor, tapi baru kali ini merasa menikmati kota ini. kota yang nyaman penuh kedamaian, memberikan kesan. orangnya baik dan ramah, hawanya panas ga panas,  masih asri, belum banyak terkontaminasi.. ah jadi pingin punya rumah di sini dan tinggal di Bogor :)) apalagi jauh dari malang, bogor jadi pengganti kerinduanku tentang malang. terimakasih Bogor... besok-besok ke Bogor lagi lah kalau lagi kangen malang. aamiin,,, di jakarta jenuh...