entah kapan ini dimulai, saya pun tak tahu,,, entah kapan puncaknya akan meledak,
memendam sebongkah masalah yang entah itu bisa diselasikan, atau hanya sebuah fase...
sungguh saya benar-benar bingung, lelah, dan jalan mana yang akan saya ambil,
saya hanya bisa sabar dan sholat. bukan kah itu yang diperintahkan ALLAH pada hamba Nya.
momen idul fitri yang sejatinya menjadi momen kemenangan, berkumpulnya keluarga besar, keharuan, kehangatan, dan terkadang selalu merasakan sesak dalam dada.
dan mungkin saya iri,
saya iri melihat keluarga yang bersama-sama sungkeman
saya iri karena di keluarga ku tak pernah ada foto keluarga yang terpasang,
saya iri karena keduaorangtua yang saya sayangi tak pernah duduk berdua.
saya iri karena kaluarga ku tak pernah lengkap seperti hangatnya sebuah keluarga
mungkin pernah bersama, tapi walau bersama tapi tak satu suara, pernah berkumpul tapi tak pernah satu hati,
ya benar, mungkin saya iri,
entahlah sampai kapan ini akan terjadi, dan saya akan berdamai dengan diri saya sendiri,
saya sadar sampai sekarang pun, saya hanya bisa menenangkan diri saya sendiri, bukan menyelesaikan masalah yang ada,
karena saya pun tak pernah tau kenapa ini bisa terjadi,
saya tak pernah bisa berani bertanya,
ya ini semua saya anggap baik-baik saja,,,
yaa baik-baik saya,
walau mungkin prasangka orang tidak baik-baik saja,
dan setiap momen idul fitri, selalu ada berita yang menyakitakan bagi saya,
karena setiap tahunnya ada saudara saya yang bercerai, iya...Perceraian.
sungguh saya takut....
takuttt sekali,
ya saya mencoba meyakinkan diri saya sendiri, bahwa ibu dan bapak baik-baik saja... iya memang baik baik saja...
tapi saya tak pernah bisa membohongi diri saya sendiri.
iri-kesal-lelah-
perlahan, saya menghindari momen-momen berkumpul, karna saya tak bisa mendengar cerita2 keluarga tentang si A si B dan yang lainnya, heran, kenapa ya selalu membicaarakan urusan orang lain.
muak? sangat
kesal? banget
sesek? pasti lah...
bertahun tahun.... sejak SMP-SMA-kuliah, 12 tahun
iya 12 tahun saya belum bisa berdamai pada diri sendiri,
sesak sangat...
bingung, kesal, capek,
teringat jaman SMA, masa jahilliah, bersenang senang bersama teman-teman, hedonis,
tapi jika sudah sampai rumah dan kamar bisa menangis, airmata tak tertahan, entah apa, gejolak jiwa, kadang bisa tertawa, dan bisa saja airmata langsung menetes,
psikologis yang tak labil, jauh dari Tuhan, belum mengetahui indahnya ISLAM
saya tak pernah tahu kenapa keadaan ini terjadi, sebenarnya apa yang terjadi, tak tau harus berbuat apa, benar-benar bingung,
kegiatan-kegiatan yang dulu jaman SMA (karate, teater, Parama) dan kuliah (organisasi, mengajar anak-anak di panti, di SLB, kegiatan2 lain) itu hanya untuk mengalihkan pikiran saya, tapi apa daya.,..
semua itu tidak mempan, permasalahan itu tak kunjung hilang dalam benak saya dan malah bertambah.
kegiatan-kegiatan yang saya ikuti ternyata tak menghilangkan ''sesuatu'' dalam fikiran saya.
begitu kuat magnetnya dalam fikiran. belum berdamai pada masa lalu,
semakin hari semakin saya merasa terbebani dengan ini semua.
kegiatan-kegiatan yang dulu jaman SMA (karate, teater, Parama) dan kuliah (organisasi, mengajar anak-anak di panti, di SLB, kegiatan2 lain) itu hanya untuk mengalihkan pikiran saya, tapi apa daya.,..
semua itu tidak mempan, permasalahan itu tak kunjung hilang dalam benak saya dan malah bertambah.
kegiatan-kegiatan yang saya ikuti ternyata tak menghilangkan ''sesuatu'' dalam fikiran saya.
begitu kuat magnetnya dalam fikiran. belum berdamai pada masa lalu,
semakin hari semakin saya merasa terbebani dengan ini semua.
fase fase ini terus berulang, bahkan permasalahan semakin bertambah umur semakin rumit,
dulu, saya tak pernah memikirkan, ibu dan bapak nanti tinggal bersama siapa? suami? adik adik? dan yang lainnya, pekerjaan? omongan2 keluarga,
saya mempunyai target dan impian-impian yang akan saya capai
tapi,..........
TUHAN...TUHAN,,, saya lelah,,, saya bingung...
hah kenapa iniii terjadii.
hei kamu!! sampai kapan akan terus begini, tak mampu berdamai pada diri sendiri?
ya rabb... saya lelah dengan fase-fase ini, sampai detik ini, sampai jemari ini menulis, saya lelah...
pergolakan dan pemberontakan dalam diri sendiri, pedih...
tapi ada satu hal yang saya sadari, saya punya ALLAH, Hasbunallah waa ni'mal wakill,
Allah sebaik-baik penolong, sabar, syukur dan ikhlas,, bukannya
semenjak hijrah dalam perjalanan islam inilah saya mengetahui konsep itu, penyejuk hati, sedikit demi sedikit bisa menerima, sedikit demi sedikit saya menanamkan konsep itu dalam diri sendiri, tapi,, tapi,, belum bisa keluar... belum bisa berdamai, fase-fase itu muncul kembali,
Yaa Rahman, Yaa Rahiim,
sayangilah kedoa orangtua saya, adek-adek dan keluarga besar.
saya hanya bisa sampai pada pemikiran ini kemudian akhirnya lagi-lagi hanya bisa menangis dan menyungkur karena merasa tak mampu melakukan apa-apa. Nyeri sekali dengan pemikiran ini. Saya tahu apa yang harus saya lakukan. Saya seharusnya berusaha sekuat tenaga agar mereka tak merasakan nyeri sesakit apa yang saya rasakan. Yang belum saya lakukan adalah melakukannya dengan sepenuh hati,
Saya selama ini masih saja disibukkan dengan keegoisan untuk menata dan menghibur hati sendiri. Padahal adik-adik saya membutuhkan saya. Kalau bukan saya, siapa lagi yang akan menjadi kawan seperjuangan mereka?
Bukankah saya masih lebih beruntung karena kedua orangtua saya masih tetap menjaga komunikasi meski jarak telah berpisah? Setidaknya beliau-beliau ada dan saya masih diberi kesempatan untuk menunaikan amanah berbakti kepada kedua orangtua saya. Bayangkan dengan para yatim-piatu, para anak2 TKI/TKW yang ditinggal bertahun-tahun, bukan kah itu lebih menyesakkan??
Maka kali ini, in sya Allah saya memutuskan untuk benar-benar berdamai, tak lagi melawan. Agar bangunan yang baru itu bisa berdiri kokoh di atas tanah yang stabil.
Memang butuh banyak pengorbanan,
butuh jasmani yang semakin bugar untuk bisa menunaikan segala amanah,
butuh hati yang semakin lapang untuk bisa ikhlas,
butuh akal yang semakin jernih untuk bisa berfikir positif kedepan,
butuh jiwa yang lebih matang untuk bisa menepis keegoisan.
Semoga Allah mampukan, semoga Allah mudahkan.
Allahumma aamiin.
Fa biayyi aalaaa irabbi kumaa tukadzdzibaan :)
butuh jasmani yang semakin bugar untuk bisa menunaikan segala amanah,
butuh hati yang semakin lapang untuk bisa ikhlas,
butuh akal yang semakin jernih untuk bisa berfikir positif kedepan,
butuh jiwa yang lebih matang untuk bisa menepis keegoisan.
Semoga Allah mampukan, semoga Allah mudahkan.
Allahumma aamiin.
Fa biayyi aalaaa irabbi kumaa tukadzdzibaan :)
Komentar
Posting Komentar