sebenarnya kita tak perlu bahagia-bahagia sekali,,, tau kah kenapa?
karena mungkin di saat kesenangan datang, di waktu yang bersamaan ada kesedihan.
misalnya,
dan untuk menjaga hati atau perasaan orang lain,
jika orang
yang sudah menikah, berlakulah sewajarnya, menjaga perasaan yang masih belum menikah
yang sudah lulus kuliah, berlakulah sewajarnya, untuk menjaga hati temen-teman yang masih bergulat dengan dosen dan revisi,
yang sudah mendapat pekerjaan, berlakulah sewajarnya, untuk menjaga hati teman-teman yang masih mencari pekerjaan dan menunggu panggilan,
yang sudah hamil, berlakulah sewajarnya, untuk menjaga hati yang sudah menikah tapi belum di karuniai anak.
Yang kaya, menjaga perasaan orang yang miskin..
Yang sempurna fisiknya, menjaga perasaan orang yang memiliki kekurangan fisik.
indah bukan?
menjaga hati dan perasaan orang lain, berbahagia sewajarnya saja, mensyukuri nikmat dengan wajar, bukan kah Allah tak suka yang berlebih-lebihan.
kita menjaga diri bukan lantaran orang orang disekitar kita iri,
Kita menjaga diri bukan berarti kita tidak berhak mengekspresikan rasa senang dan syukur kita..
Kita menjaga diri karena kita ingin sama-sama bersyukur dengan mereka yang belum mendapati nikmat yang sudah kita dapati..
"Karena menjadi perantara syukur bagi orang lain adalah kenikmatan dan kebahagiaan yang sesungguhnya”(Sarah kurniati)
Sudah selayaknya, dalam berbahagia pun kita mesti bersabar. Tak melulu kebahagiaan itu disebut-sebut dalam berbagai kesempatan,
sebab langit disini belum tentu serupa dengan langit disana.
Batu, 31 Mei 2014
penghujung bulan Mei
23.14
Komentar
Posting Komentar