tadi jalan-jalan keliling kota Batu dan sekitarnya tanpa tujuan yang jelas, sudah menjadi kebiasaanku kalau lagi suntuk, keluar rumah jalan entah kemana tanpa tujuan, get lost...
nah, dalam perjalanan, aku pun bertemu dengan rombongan yang mau naek Panderman, tau dari mana? ya dari tas yang di bawa dan perlengkapan-perlengkapannya, carrier segede gabang, sepatu, dan jaket.
ada beberapa perempuan yang ikut pendakian. ah aku hanya bisa melihat di tepian jalan hamparan sawah sambil meringis *aku kapan naik gunung lagi*
yap,,, mari bercerita,
perempuan, sepertinya aneh jikalau mempunyai kebiasaan naek gunung, dan masih awam di benak masyarakat. banyak yang bilang ''ngapain naik gunung, perempuan harusnya di rumah, maen ke mall, ke salon, ini malah ga jelas naek gunung bikin capek''
oh my God. ya biarlah, persepsi setiap orang kan berbeda.
dan inilah alasan saya suka mendaki / naik gunung
** awal mula mendaki sejak SMA, masih ingat dalam benak saya, gunung pertama yang saya daki adalah gunung panderman, ada yang bilang itu bukan gunung tapi bukit. tapi bagi saya, itu gunung, ya namanya pemula, baru pertama naek bingung apa yang mau disiapkan. bareng kakak-kakak senior jaman SMA, nah kebetulan aku yang paling belakang, di belakang ku masih ada mas adi dan mas bima, ya saya tau, kenapa mereka selalu di belakangku, karena mereka tak ingin adek kelasnya ini terjadi apa-apa, yang tanggung jawabkan seniornya juga, hehe... perjalanan seru, dulu masih bawa tas ransel, carier di bawain sama mas adi, gitu aja aku masih nangis di jalan, duh kalau ingat memalukan, kenapa nangis? nangis capek, rasanya ga kuat, tapi mas adi bilang ''hah silvi nangis, tak teriakain nih biar temen-temenmu tau, kenapa nangis?''
me ''capek mas, aku turun aja kali ya''
mas adi, ''dasar, cewek cengeng, kaki tuh jangan di manja, anak mama, malu noh sama daun-daun pohon-pohon di sekitarmu, gini aja nangis''
me : ''heh mas aku ga manja''
mas adi '' ya udah buktiin kalau ga manja naek sampek puncak, tinggal dikit lagi kok''
dan lanjut perjalanan sambil hati grundel di bilang manja sama mas adi.
alhasil saya, mas adi dan mas bima nyampek puncak tapi terakhir. yang lain udah pada istirahat dan bangun tenda.
nah, dari situlah saya mulai ketagihan naek gunung dan mbolang ke alam.
karena gunung bikin ketagihan.
dan masih ingat dalam benakku. esok paginya mas adi tanya '' masih mau naek lagi ga?, kalau ngak tak coret kamu dari anggota''
aku ''mau mau mauu mas, seru ternyata''
dan waktu terus berlalu sampai akhirnya mas adi lulus SMA,
dan akhirnya aku di kasih sleeping bag nya
baiknyaaa... katanya kenang-kenangan tanda perpisahan kelulusan. #makasih mas, sleeping bagnya masih bagus dan wangi :))
** banyak teman-teman saya bilang'' cewek jilbaban, rok an, keliatan kalem naek gunung?'' why???
Don’t judge people from that they wear!
Karena penampilan hanya sebuah ekspresi dari sang pemakai.
memang kenapa kalau perempuan berjilbab dan rok naek gunung? ya lihat gunung yang akan di daki, kalau masih bisa pakai rok ya pakai, kalau tidak memungkinkan atau bikin ribet ya pakai celana cargo.
perempuan itu yang terpenting bisa menempatkan diri, kapan pakai pakaian resmi, kapan pakai sendal cewek, kapan pakai sendal gunung, kapan bawa tas ransel dan carrier, ya masa ke kondangan pakai sendal gunung dan kaos, ga mungkin kan. tapi kalau suruh pakai high heels... hmmm ga deh (saya)
** naek gunung ini belajar memahami kehidupan
mungkin bagi sebagian orang naik gunung itu kesannya ekstrem, capek, maskulin, kotor, ngerepotin diri sendiri (iya ga yaa? enggak juga ko..), dan bisa jadi sesekali ngerepotin orang lain juga (kalo yg ini saya sering hehe), dll. Kalo dipikir-pikir, naik gunung ya memang demikian, tapi seruuuu dan selalu berkesan. honestly!
Namun, itu semua adalah pilihan, dan setiap pilihan pasti ada konsekuensinya masing-masing. Dan bagi saya naik gunung itu hobi yang bisa membentuk karakter seseorang.
"Life is never flat". Jalanan yang harus kita lalui tak selamanya mulus, kadang licin, terjal nan berbatu. Mau tidak mau kita harus terus mendaki jalan terjal itu agar kita bisa sampai di puncak kehidupan. Tantangan dan rintangan dari hari ke hari juga semakin sukar, kehidupan kita akan semakin menanjak sehingga menuntut kita untuk terus mendaki..mendaki lagi dan lagi-lagi mendaki.
Saat kita lelah dan merasa lemah, ingatlah bahwa ada Allah yang Maha Menguatkan. Ada teman dan orang-orang di sekitar kita yang akan terus mensupport kita. Mereka yang akan mengingatkan, berbagi, dan menunggu kita jika kita ingin berhenti sejenak kemudian kembali melangkah bersama menuju puncak yang hendak dituju.
Mendaki Gunung adalah sebuah proses. Proses yang bisa membentuk karakter seseorang. Sebuah pencapaian yang besar juga tentu memerlukan proses. Puncak akan bisa dicapai bila kita mau dan berani berproses, mengalahkan ego pribadi untuk mulai melangkah ke gerbang pendakian. Mendaki gunung mengajarkan kita untuk bertahan dan kreatif seperti mencari jalan keluar untuk memecahkan suatu masalah. Apalagi Tuhan berbaik hati membagikan kekayaanannya dengan cuma-cuma.
** naek gunung itu melatih kita keluar dari zona nyaman
dimana perempuan mempunyai zona nyaman di rumah, masak, jalan-jalan, ke salon, takut kulit menjadi hitam.
hehe capek gendong carrier, dengkul rasanya mau copot, kulit menjadi hitam *sudah biasa*
Percayalah, warna kulit tidak menjadi masalah ketika dibandingkan dengan pengalaman yang kita dapatkan. Bisa menjadi cerita dan dikenang sepanjang masa. Jalan-jalan ke mall memang asyik kalo punya duit, tapi itu tidak bisa menjadi sebuah cerita yang membanggakan. hehe
mengajarkan saya menjadi perempuan yang tidak gampang mengeluh, tidak mudah putus asa, dan tangguh.
kalau katanya sahabat saya nih ''aku mau cari cewek yang suka naek gunung, soalnya pasti mau di ajak susah, susah mengarungi kehidupan ini, tidur di tenda, makan seadannya'' #eaaa hahaha
tapi kembali lagi itu semua adalah pilihan. mendaki adalah proses dari miniatur kecil kehidupan.
** kalau saya mengamati di gunung, para pendaki biasanya berjalan sambil menunduk, sesekali melihat kedepan dan ke atas, Ketika saya ada di bawah saya bilang Allah ada di atas, saat saya sudah di puncak gunung, ternyata Tuhan masih ada di atas dan jauh. Artinya enggak boleh sombong. Terus tunduk sama Tuhan. Betapa Allah Maha Besar. Selama menanjak, kepala saya selalu dengan sendirinya tertunduk tanpa otak yang memerintah, saat itulah saya diingatkan untuk terus berdoa dan tunduk kepada sang Pencipta. Terima kasih Allah.
Rasa syukur, haru bercampur bangga memenuhi ruang kosong dalam hati ini. Subhanallah, begitu Agungnya Engkau, sungguh begitu indah alam yang Engkau ciptakan.. Maha Suci dan Maha Besar Engkau, ya Allah. Di atas puncak pun saya semakin mengerti bahwa Engkau-lah sebaik-baik Pencipta. Sungguh indah alam-Mu ini.. sungguh kami tiada artinya, kami begitu kecil dihadapan-Mu.. tak pantaslah diri ini merasa sombong, angkuh..karena semua ini adalah milik-Mu.
Yakinlah, bila kita terus melangkah dan mendaki kehidupan ini dengan sungguh-sungguh dan kerja keras, tanpa mengeluh dan menyerah, insya Allah kita akan menuai hasil yang indah. Jika kita mengalami masa-masa sulit, yakinlah bahwa Allah tak pernah memberi beban melebihi kemampuan manusia, selayaknya Ia tak pernah menciptakan gunung tinggi yang tak dapat didaki oleh manusia.
Percaya juga pada sahabat dan teman yang selalu siap sedia membantu dikala kita berada dalam situasi sulit. Kita juga harus percaya pada diri sendiri bahwa kita mampu menghadapi semua rintangan yang datang menghadang dan kita bisa mencapai puncak kehidupan yang ingin kita tuju.
saya merindukan mendaki gunung...
bersama teman-teman SMA, kuliah dan teman berpetualang
bersama teman-teman SMA, kuliah dan teman berpetualang
Batu, 3 mei 2014
Komentar
Posting Komentar