Langsung ke konten utama

sadarkah bahwa kamu seorang perempuan?

seberapa sadar kah bahwa kamu adalah seorang perempuan?

perempuan... iya seorang perempuan... apa yang ada dalam benakmu tentang sesosok makhluk ini?
apakah seorang perempuan adalah dia yang lemah lembut, pintar memasak, anggun, pendiam, begitukah?
haha entahlah... saya juga tak mengerti tentang makhluk ini 

banyak testimoni teman teman, sahabat, saudara dan ibu saya sendiri
''chasingnya saja ysng cewek''
''setengah cewek, setengah cowok''
''jadilah perempuan yang perempuan dek''
dan masih banyak lagi, 
ibu pernah bilang ''mbak, jadilah perempuan yang manis, jangan terlalu mandiri, apa-apa dikerjakan sendiri''
saya pun hanya terdiam, tersenyum, dan termenung, menelaah kalimat kalimat yang terucap itu semua. 
sedih, confuse...

saya mencoba untuk menelaah dan mengevaluasi diri, flashback bebrapa kasus yang saya terlalu mandiri dan mungkin menyeramkan 
mengangkat barang-barang, ketika itu ada teman laki-laki berusaha untuk membantu,saya bilang ndak usah, soalnya saya punya prinsip selagi saya bisa saya kan lakukan sendiri, 
ketika naik gunung, akan di bawakan cariier oleh teman laki-laki, saya jawab, saya masih bisa bawanya kok, nanti saja kalau saya capek, dan sampai tempat camping pun saya yang bawa, 
Dalam beberapa kejadian, sepertinya saya pernah juga dengan sangat keras kepalanya gak mau dibantu walaupun saya sendiri kepayahan (ckckck, parah juga ternyata saya).

apakah seseorang yang ada di bawah ini tak bisa di sebut juga sebagai seorang perempuan???
seorang yang mendaki gunung bersama carrier di punggungnya, 
seorang yang menyukai seni bela diri,
seorang yang bisa membenarkan kran air yang rusak, 
seorang yang bisa memasang gas elpiji, dikala teman-temannya takut untuk memasang dan harus menunggu teman lelakinya, 
seorang yang bisa mengangkat galon ke lantai 2 di saat teman-temanya ribut bagaimana cara mengangkat galon ke atas, 
seorang yang biasa tidur di atas genting untuk melihat bulan dan bintang sekaligus memasang genting yang pecah, 
seorang yang bisa ngutek-utek prabotan elektonik yang rusak. 
seorang yang suka jalan-jalan sendiri naik motor dan ngebut, tapi kalau di bonceng dibelakang bakalan ketakutan panik.
seorang yang jika belanja ke mall dia hanya ketempat tujuan langsung pulang tanpa harus muter-muter dulu seperti teman teman sejenisnya 
seorang yang tidak terlalu ribet memikirkan penampilan dan berwajah kucel tanpa make up,
seorang yang suka get lost tanpa tujuan untuk berpetualang,

perempuan, ketika dia berdiri di bus atau di kereta tak dapat tempat duduk, tapi kemudian dia diberikan kesempatan duduk oleh seorang laki laki, mungkin karena tak tega melihat seorang perempuan berdiri atau perasaan apa yang membuat banyak laki-laki melakukan hal seperti itu... di mana pun, sering saya melihatnya. 

Pemikiran saya sih, karena memang sudah terbiasa untuk angkat-angkat barang sendiri contohnya galon air sekalipun, maka ketika ada tawaran itu, saya merasa tidak membutuhkannya. apakah itu terlalu berlebihan? Terlebih, background dan pengalaman saya selama ini memang melatihku untuk menjadi seorang wanita “perkasa” dan mandiri. In some cases, ada juga yang menyebut saya sangat “laki-laki”. hahaha…. -___-”. Ini smua mungkin secara ndak sadar membuatku jadi berlebihan.

Here, I’m not trying to blaming the others ataupun membuat suatu excuse untuk diriku sendiri. Namun pada intinya, dari kejadian ini cukup membuat saya tersadar bahwa kayaknya daku memang perlu evaluasi diri. Benarkah daku ternyata punya masalah yang sebenarnya sudah agak akut? Sementara selama ini saya pribadi gak pernah merasa itu menjadi masalah (atau sayanya yang memang gak sadar itu MEMANG masalah ya?)

Tapi, sungguh saya gak sadar kalau itu bisa menjatuhkan harga diri para kawanku yang laki-laki. Kodratnya bukan begitu. Benarkah? Anyone can help me to answer it?

Di kasus paling ekstrim, bisa saja ada orang yang beranggapan “terlalu mandiri” untuk ukuran seorang perempuan tu memang gak boleh dan jadi menyeramkan. Too high! MaasyaAllah… Sedihnya hati ini,,,saya sangat sedih. Benarkah?

Jika memang benar, sungguh saya harus banyak-banyak beristighfar kalau sikap “normalku” itu bisa menyakiti harga diri seseorang, terlebih laki-laki. Banyak orang yang bilang kalau laki-laki itu inginnya dihargai. Jadi ketika ada yang menawarkan bantuan untuk angkut-angkut barang, ya diterima aja walaupun kita-kita kaum hawa bisa membawanya. Itung-itung turut memberi kontribusi dalam penyebaran dan pemerataan perbuatan baik.

kapankah dan bagaimanakah seharusnya bisa dipanggil perempuan?
perempuan tetaplah seorang perempuan bagaimanapun keadaannya, 
kodratnya menjadi seorang perempuan, menjadi calon istri, calon ibu, perempuan yang tangguh dan mandiri.
hanya yang membedakan adalah lingkungan dan background keluarga.
jika memang sang ayah yang sangat berperan dari semenjak dia kecil sampai sekarang, mungkin karena didikan seorang laki laki lah karakter perempuan ini memiliki karakter laki laki dari sesosok ayah. 

tapi tau kah?
tetaplah dia seorang perempuan, mempunyai jiwa yang abadi sebagai sesosok perempuan.
menjadi perempuan, 
dengan segala konsekuensinya, sekuat-kuatnya perempuan tetaplah dia mempunyai tubuh yang lemah di bandingkan lawan jenisnya. manjadi perempuan yang tangguh yang bisa menjadi dirinya sendiri, yang terus melangkah dengan tidak menunjukkan kelemahannya sekaligus tak berlindung dalam kelemahan yang dimilikinya, serta mempunyai tanggungjawab yang diemban kodrat sebagai perempuan.

Karenanya, sekarang ini saya mau berpikir ulang dan mengevaluasi diri lagi jikalau kebiasaan ini memang menjadi masalah yang harus segera ditangani.

untuk para kawanku semua, mohon maafkan yang sebesar-besarnya atas sikap yang berlebihan ini. Sungguh, itu tidak ada sama sekali maksud untuk merendahkan atau menjatuhkan. Na’udzubilah….

let me try to re-evaluate myself and solve this “problem”, and be a more “wanita” :). Terima kasih banyak ibuku sayang, sudah mengingatkan :”)

terimakasih banyak untuk adekku, sahabat dan kawanku : dek nana, dek rio, Isma, Roosy, christina, Diki, Tanto, Faris, Yunan, Fitri, Fitria, Devi, Weni, Sembon, Lowita, Feby, dan masih banyak lagi yang selalu mengingatkan ku...
bantu saya dan selalu ingatkan yaaaaa ^_^




Batu, 24 Mei 2014
19.50

Komentar

Postingan populer dari blog ini

check up

lagi-lagi dan lagi, agenda tahunan, hmmm ini bukan agenda rapat LPJ tahunan organisasi ya, tapi ini agenda tahunan aku periksa / check up ke dokter kandungan alias obgyn, selain ke dokter mata dan dokter gigi.  *tutup mata *tutup telinga  tutup mata karena memang harus ngeluarin duit banyak dan tutup telinga, karena aku selalu paranoid terus sebelum check up.  lanjut cerita yuk, memang sudah hampir 4 atau 5 tahun ini saya selalu check up ke dokter kandungan,  berawal dari saya tida kedatangan ''tamubulanan'' selama 2 bulan, biasanya teratur, kok ini ga teratur yaa...*mikir dalam benakku, mesti ada-apa. oia, saya biasa periksa ke dr. Siti candra, dulunya tempat prakteknya kecil, tapi sekarang sudah gede, sudah berdiri rumah sakit yang dinamain, RSIA Galeri Candra. yang ngasih info ya mba hida. dulu, awal kesana ditanya anamnesa, kemudian di periksa USG, ternyata ga ada apa-apa, legaaaaaa rasanyaaa.... pikirku, ga di kasih ...

Hijab Ku *_*

Bismillah Jilbab yang pertama kali saya kenakan yaitu disaat selesai menempuh pendidikan di bangku SMA, tepatnya setelah pengumuman kelulusan. Di awal memakai jilbab, saya tidak memiliki motivasi apapun, hanya ingin memakai saja. Ketika itu pula tidak berfikir bahwa jilbab merupakan kewajiban bagi seorang muslimah. Sebagian orang berfikir matang-matang sebelum memakai jilbab, bahkan banyak pula yang mengatakan akan berjilbab hati dulu sebelum berjilbab sebenarnya. Sejujurnya kurang setuju dengan pendapat tersebut, secara rasional bagaimana caranya berjilbab hati, kalau berjilbab tubuh jelas bisa dengan pakaian hijab. Namun apapun pendapat orang harus kita hargai. ^_^ Sebenarnya latar belakang keluarga saya bukan dari keluarga islam murni, keluarga besar ibu menganut agama nasrani dan keluarga ayah menganut agama islam, setelah lulus SD hijrah ke kota malang dan hidup bersama ayah, dari sinilah kehidupan baru dimulai, dengan dimulai belajar agama islam sedikit demi sedik...

Bogor

sudah ketiga kalinya aku menginjakan di bumi Bogor, tapi baru kali ini merasa menikmati kota ini. kota yang nyaman penuh kedamaian, memberikan kesan. orangnya baik dan ramah, hawanya panas ga panas,  masih asri, belum banyak terkontaminasi.. ah jadi pingin punya rumah di sini dan tinggal di Bogor :)) apalagi jauh dari malang, bogor jadi pengganti kerinduanku tentang malang. terimakasih Bogor... besok-besok ke Bogor lagi lah kalau lagi kangen malang. aamiin,,, di jakarta jenuh...