batuk dan pilek masih mendera, tapi bosan di rumah, akhirnya jalan-jalan entah kemana,
kemarin, tepatnya hari sabtu, manasin motor, ambil helm dan mengikuti hati untuk mengarahkan tangan ini menyetir dan membelokkan motor ke mana.
pada akhirnya tujuannya ya ke Masjid, masjid An-Nur Batu, sholat dan berdialog dengan Allah, setelah berdialog dengan DIA, duduk merenung di teras masjid, tetiba ada anak kecil di depanku, lucu anaknya, kemudian ada ibunya di belakangnya, tepat duduk di sebelahku,
nah cerita pun di mulai,
kami pun berkenalan, beliau yang mengawalinya
ibu : ''kok ngelamun mba, sudah sholat?''
me : ''hehe sudah bu, ibu sendiri mau kemana?''
ibu : '' nungguin papanya anak-anak lagi jalan2 sama anak-anak di sana (alun-alun)''
me : ''ndak ikut bu? hehe''
ibu : ''ndak tadi saya sholat, malah di tinggal, ya sudah saya tunggu di sini saja, mobil juga di parkir d sini, masih kuliah mba?
me : ''iya bu, tapi masih koass''
ibu :'' oh kedokteran yaaa
me '' kedokteran hewan bu
ibu : ya sama aja lah mba,, hehe sabar ya mba kalau kuliah di kedokteran itu memang lama lulusnya dan susah, saya sudah merasakannya''
me : '' oh ibu dokter atau dokter hewan
ibu : '' saya dokter mba''
me :'' maen ke sini sering bu?''
ibu :'' sering sih mba, ini cara saya mendidik anak-anak, saya sering mengajak anak-anak ke alam, ke air terjun, jalan tracking, alhamdulillahnya suami saya itu dulunya pecinta alam, jadi se visi kalau mendidik anak
dan akhirnya beliau menceritakan, awal pertemuannya dengan suaminya, suaminya lulusan teknik kimia ITS. singkat cerita, di kenalin temannya, cocok dan akhirnya menikah,
me :'' hmm iya ya buk,''
ibu '' gimana mba udah ada calon belum? hehe''
me : sudah bu di jodohin sama Allah, tapi belum bertemu,
ibu : '' hehe mba bisa saja, jangan lupa di jemput dengan kebaikan,puasa senin kamis, rutin tahajud dan dhuhanya mba, saya dulu begitu, tapi kalau capek sekali seminggu 2-3 kali saja, pokoknya seminggu harus ada untuk sholat tahajud dan dhuha''
me : oh ya yaa bu, anak-anak pinter-pinter ya bu..gimana cara mendidiknya bu *saya jadi pendengar yang baik saja lah dengan sedikit pertanyaan*
ibu : aduh jaman sekarang serem mbak, yang penting akhlaknya, pendidikan itu dari keluarga, kita harus memahami dan mengerti karakter anak. cara mendidik anak pertama dan kedua mesti berbeda.
-------bla bla blaa masih panjang ceritanya----------------
yang saya bisa tangkap dan diambil hikmahnya
sesibuk apapun profesi seorang perempuan, tugas utamanya adalah mendidik anak, mengurus suami, patner suami,
anak adalah titipan Allah yang wajib kita jaga, mereka lahir kedunia dengan karakternya masing masing, dalam hal mendidikpun dengan cara yang berbeda.
beliau sering mengajak jalan-jalan ke alam(air terjun, pedesaan), berkemah, mengamati sungai dan air terjun, tak hanya bersama anak-anaknya saja, tapi teman-teman anaknya pun di ajak,..
Pengalaman hidup di luar rumah ditemani suara serangga, burung atau binatang lainnya dapat menumbuhkan rasa natural anak. Memasak, mencuci dan tidur di luar akan membawa anak lebih mengenal Allah Tanpa diganggu oleh alat-alat elektronik.
MENGAMATI SUNGAI DAN AIR TERJUN
Perhatikan ritme, kesejukan, dan keindahan gerakan air yang menciptakan suasana hati yang sempurna untuk mencerminkan syukur pada ciptaan Allah. Berbicara dengan anak-anak tentang bagaimana Allah mengatur siklus air dari tanah ke langit dan kembali ke bumi untu dimanfaatkan oleh manusia.
MENDAKI GUNUNG/BUKIT
Berada di tempat tertinggi dari tempat kita berpijak akan memberikan pengaruh tersendiri pada jiwa anak. Anak akan menyadari bahwa ia adalah bagian dari alam, bahwa ia hanyalah sesosok makhluk yang kecil seperti makhluk-makhluk Allah yang lain. Dengan demikian anak akan menyadari kalau ia harus menjaga alam, sebab kalau alam telah di rusak, bukan hanya ia, tapi anak cucunya tidak akan bisa menikmati apa
yang ia nikmati sekarang.
mengajak berbagi di jalanan, sebulan sekali ke panti untuk berbagi adalah cara beliau mendidik anak menjalin silaturahmi kepada sesama.
subhanallah ya ibu ini...terimakasih ibu atas sharing nya *_*
setelah selesai bercerita, tak terasa adzan asar berkumandang, kami pun melangkah mengambil wudhu dan sholat asar berjamaah, selesai sholat saya melanjutkan perjalanan,
*dalam benak saya* rumah sakit tepatnya di bangsal untuk rawat anak-anak di deket SMA 1 Batu
dulu jaman kuliah saya sering ke sini, hanya sekedar bertemu dengan dokter, ketemu anak anak yang ada di sini dan kebetulan teman SMA saya kerja sebagai perawat disini
motor pun melaju, beli balon dulu ah buat anak anak yang sakit di sana
akhirnya saya pun beli balon 10, naik motor sambil bawa balon, ya bisa bayangin, banyak orang lihat, bodoh amat,..toh saya ga bikin rugi
parkir dan keruang dokter
saya melihat dari kejauhan, sudah ada yang tersenyum....
kaki terus melangkah dan akhirnya saya berpelukan dengan dok naima,
kenalkan dok naima ini adalah dokter jaga di rs ini, beliau baikkk banget, sabar dan lembut
dok naima : silvi lama ga kesini, sombong sekali kamu sekarang
me : habis koass di jakarta dok, baru pulang nih,
dok naima : oalah udah beres kan semua?
me : hehe belum dok, doain lancar
dok naima : ini balon untuk anak anak yaa.. ya udah yuk, ke ruang anak, pasti mereka seneng kamu kasih balon.
me : mari dok, tapi saya lagi pilek nih dok,
dok naima : ya kamu pake masker dan jangan cium-cium mereka yaahh heehee
me : baik lah
begitu masuk ruangan dan kemudian membagikan balon satu-satu ke anak-anak.
ya namanya sakit yaa... masih tergolek lemas dan hanya tersenyum
satu demi satu ku kasih ke mereka, ada yang di mainin ada yang di ikat di tempat tidurnya,
ada yang memberikan balonnya ke mamanya.
dok naima kemudian mengajak saya ke suatu ruangan rawat inap, saya sudah bisa menebaknya , pasti diajak ke kamar dek rina, dia menderita thalasemia sejak lama, jadi penderita thalasemia ini memerlukan transfusi darah setiap bulan. Jika tidak, maka mereka akan lemas bahkan bisa meninggal dunia. “Sehingga ada yang menyebutkan mereka hidup karena darah, dan matipun karena darah''
*tentang penyakit thalasemia silahkan cari di google saja...*
saya sudah lama mengenalnya, sejak 2013 lalu, selalu menemani dia saat tranfusi darah, dulu masih 2-3 bulan sekali tapi katanya semenjak januari kemarin, sebulan sekali harus tranfusi darah,
yang bikin terharu kemarin, kalau ketemu sama dek rina
saya buka pintu dan saya lihat dia, kemudian dia bangun dan memeluk
dek rima : ''mba siviiii,,, sambil peluk dan berbisik, aku akan sembuh kan''
me : iya cantik,, kamu harus sembuh, dan pasti sembuh''
dek rima : sakit mba,,, di suntik terus ini
me : sabar yah cantikkkk... sabar,,, doa,, sebut nama Allah sayanggg...
dek rima : tetep sakit mbaa,,, mba lama ga jenguk aku, sebel...
me : ini sekarang mba silvi jenguk dan bawaain kamu coklat kesukaanmu
duh rasanya ngondok, airmata ini tertahan dan akhirnya lepas juga dari mata, sebenarnya ga mau nangis di depannya, tapi apa daya, kelopak mata tak bisa menahan.
dek rima : mba silvi ga boleh nangis, iya iyaaaa rima ga sakit, rima mau di suntik suntik lagi, asal mba silvi ga boleh nangis,
me : ngak kok ngak,,, cuma ada debu nyangkut di mata, rima harus semangat, harus ceria, harus banyak berdoa, nanti mba silvi bawa coklat dan mainan kesukaan rima deh
dek rima : asekk asekk dengan sedikit lemah karena kondisinya sekarang lagi drop.
ketika menulis ini pun air mata tak berhenti untuk menetes, rasanya sedih
melihat anak sekecil itu sudah di berikan sakit yang mengharuskan setiap bulan tranfusi darah selama hidupnya, sekali transfusi itu butuh empat kantong darah. Dan empat kantong itu membutuhkan waktu empat hari. dia menjalani hidupnya bergantung pada para pendonor darah, belum lagi sakit yang dirasa selama transfusi, biaya yang keluar untuk obatnya. Sekarang kita yang hidup sehat terus ga mau donor? Takut? Ngilu? Donor tuh ga sakit, karena kita mengeluarkan darah kita dan pasti jadi sehat, justru transfusi itu yg sakit. Donor darah itu keren, klo kita bisa donor darah, itu artinya kita sehat dan darah kita sangat berarti untuk kepentingan orang banyak. jadi, mari kita donor
anak anak thalasemia tak butuh dikasihani, tapi butuh semangat... jadi buat mereka bahagia dan semangat.
kemudian aku pun ngobrol dengan ibu nya, tidak ada sangkaan bahwa anaknya akan menderita penyakit yang belum ada obatnya ini. Dari pihak keluarga juga tidak ada riwayat thalasemia. ibu nya dek rima sadar, umur anaknya tidak bisa diharapkan panjang. Transfusi juga bukan jalan akhir untuk memperpanjang umur anaknya. Efek samping dari transfusi itu membuatnya ngeri. "Kulitnya menjadi gosong dan limpanya membesar", kata ibunya tentang efek samping transfusi. Hanya kepasrahan yang tetap menuntun beliau untuk berusaha. "Saya tahu thalasemia tidak bisa disembuhkan, terserah deh, habis mau diapain lagi", ujarnya sambil tertawa, tetapi matanya berair.
Secara kasat mata, beliau tertawa dan tersenyum ke orang-orang di sekitarnya, tetapi dari tatapannya beliau tidak bisa menyembunyikan kepedihan di hatinya.
alhamdulillah nya, untuk biaya ada seoang donatur yang mendanai semua biaya rumah sakit dan tranfusi darah.
alhamdulillah nya, untuk biaya ada seoang donatur yang mendanai semua biaya rumah sakit dan tranfusi darah.
semangat untuk dek rima, cobaan kesabaran dan keikhasan
yang paling kuat adalah ibunya dek rima,.
---------------------------------- ---------------------------------------------------
donor darah lah, donor darah itu wujud cinta antar sesama
setetes darah sangat berarti buat mereka yang membutuhkan
di luarsana masih banyak yang membutuhkan darah,,,
satu hari itu saya dipertemukan dengan orang-orang yang memperkenalkan secara langsung apa arti bersyukur dan seperti dihantui pertanyaan “mau ngeluh apa lagi sih, hidup kamu tuh udah beruntung banget”. Traveling singkat yang dipenuhi rasa cinta yang berlimpah. Hari luar biasa itu pun dimulai....
keluar lah,,, berjalan lah,,, temuilah mereka.... karena mereka lah yang membuatmu belajar tentang kehidupan
Batu, 4 mei 2014
Komentar
Posting Komentar