kodrat perempuan memang semestinya berada di rumah,
Bukan bermaksud mendahului irodat Alloh ketika aku menggunakan kata ‘tidak mungkin’. Anggap saja ini seperti silogisme. Ada jika, ada maka.
aku banyak membaca tentang keutamaan ibu rumah tangga, mengurus anak dan suami, dan juga, aku banyak bertemu ibu-ibu rumah tangga yang rela menanggalkan gelar tinggi, dan karirnya demi menjadi ibu rumah tangga (full time), salutttt, proud of you....
tapi aku juga banyak bertemu dengan ibu-ibu yang bisa berbagi waktu bekerja sekaligus menjadi ibu rumah tangga.
tapi untuk ku sendiri ijinkan aku mengatakan ''sepertinya aku akan sulit untuk full time atau murni menjadi ibu rumah tangga'' walaupun entah kapan atau entah suatu saat nanti mungkin aku akan mengubah mindsetku ini.
mengapa ? apa alasannya?
nah ini mungkin alasan yang ku buat sendiri demi menelusuri pertanyaan ''mengapa''
mungkin nanti akan ada alasan lain lagi, tapi untuk sekarang ini cukup ini dulu,
1. Bapak,
bapak menyarankan saya untuk masuk kuliah di kedokteran hewan, dimana di jurusan ini dalam proses studinya jelas membutuhkan waktu yang lama, dan memang dari dulu tak diijinkan masuk psikologi, alasannya ''nanti mau kerja di mana?'' ya.. yang difikirkan bapak adalah ''dunia kerja''
dan beberapa waktu lalu, tanpa sepengetahuan dan persetujuanku,beliau mendaftarkanku di workshop / CE (continue education) lewat mbak ayu, mbak ayu tetiba telpon ''sil kamu di daftarin bapakmu ikut CE, dateng ya tgl 11, udah di bayarin bapak''
mbak ayu itu dokter hewan, bapak sudah menganggap mbak ayu anak sendiri,
kata bapak ''yaa biar kamu kenal sama dokter-dokter hewan yang lebih senior, nanti kan enak kalau kerja'' dan juga beliau menitipkanku di temannya yang juga seorang dokter hewan untuk magang di dunia persapian.
padahal dunia persapian tidak ada di benakku, dan aku harus menjalaninya,
yah... gpp. ikhlas saja, jalani saja, toh juga sekarang saya mengajar di peternakan,
''DUNIA KERJA''
2. kuliah disini prosesnya lama dan lulusnya susah. tidak gampang, dan ilmu terus berkembang, jika menjadi ibu rumah tangga kemungkinan aku sudah tidak berkeinginan untuk membuka slide/internet dan ''ilmu yang kudapat untuk apa'' bekerja bukan untuk mencari materi, tapi untuk mengupgrade ilmu agar tidak tumpul dan tetap berwawasan. dunia Vet terlanjur mewarnai dalam hidupku selama 6 tahun ini, susah untuk move on, aku terlanjur ingin membuat ilmuku bermanfaat bagi umat manusia. Terlanjur merasakan betapa bahagia melihat pasien sembuh setelah menerima obat dan secuil penjelasan. Aku terlanjur mencintai. Dan aku tak sanggup mengkhianatinya dengan membuat semua itu hilang dalam hidupku sebagai ibu rumah tangga murni.
3. jalan-jalan
ngelencer, piknik adalah hobiku, sering jalan-jalan sampai kesasar itu hal yang menyenangkan, dan memakai uang sendiri itu jauh lebih berfikir untuk hemat,
4. tak bisa diam
tipe orang yang tak bisa diam di rumah, yaa walau di rumah pasti banyak yang dikerjakan, tapi hmmm hehee keluar rumah dan bertemu orang lain jauh lebih menyenangkan, bersosialisasi, berkontribusi, Yah, intinya, ke-takbisadiam-an itu akan membuat ibu rumah tangga tidak bisa menjadi ibu rumah tangga murni. Godaan untuk menggunting, menggambar, mengiris, mengutak-atik, dan hal-hal lain semacam itu, akan membawa ibu rumah tangga menuju suatu dunia ‘berbisnis di rumah’.
aku pun selalu ingat kata-kata ibu
''jadi perempuan harus manut sama suami, kalau bisa ikuti kemanapun suamimu pergi, jangan sepert ibu''.
yang patut di garis bawahi adalah, aku ingin tetap bekerja untuk mengabdikan ilmu yang telah ku peroleh dan mengupgrade ilmu,
yang patut di garis bawahi adalah, aku ingin tetap bekerja untuk mengabdikan ilmu yang telah ku peroleh dan mengupgrade ilmu,
pun juga sebelum menikah seharusnya ada kesepakatan / komitmen terkait pekerjaan, aku pun juga tau, aku pun pasti akan menyediakan sarapan/makanan untuk anak-anak sebelum keluar rumah, memastikan semua urusan beres sebelum ditinggal, pun juga aku tau bawasanya bagi wanita ketika telah berkeluarga tugas utamanya adalah melayani suami, melahirkan dan merawat serta mendidik anak-anak, dan menjaga rumah, harta dan kehormatan suami.
Wanita ada sebagai pendamping perjuangan suami. Sehingga Wanita tidak hanya menjadi Ibu Rumah Tangga. Kan nanti di akherat kelak, masing-masing individu ditanya amalnya. Oleh karena itu masing-masing suami dan istri juga harus punya karya yang bisa dipersembahkan kepada umat/masyarakat.
So.. kembali ke kebijakan suami dan kesepakatan calon suami/ istri sebelum nikah. tetap komunikasi adalah kunci dari urusan rumah tangga.
Islam tidak melarang seorang muslimah untuk bekerja, bukankah putri Rasulullah Fatimah mendapatkan upah dari hasil menumbuk gandum. Kisah istri Nabi Ayub yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga ketika Nabi Ayub tengah sakit, juga adalah contoh bagaimana muslimah mengambil peran dalam turut memenuhi kebutuhan keluarga.
**berdoa..semoga suamiku nanti mengerti akan hal ini dan mengerti profesiku**
memang butuh manajemen waktu yang ekstra demi itu semua, dan sudah konsekuensi jika lelah melanda, tapi jika sudah terbiasa menjalani, membagi waktu pasti bisa. yang terpenting sabtu dan minggu adalah hari untuk keluarga, serta urusan pekerjaaan diselesaikan di tempat kerja, jika sudah di rumah ya berarti waktunya untuk keluarga. intinya ''selesaikan pekerjaanmu di tempat kerjamu, jangan pekerjaaan di bawa ke rumah''
tapi beneran.... aku melihat orang yang memutuskan menjadi ibu rumah tangga murni dan melepas karirnya itu adalah hal yang luar biasa dan hebat....
entahlah... yang ada dalam mindset ku sekarang ya itu tadi beserta alasannya.
perkara nanti ada seseorang yang bisa merubah mindset dengan alasan dari dia yang akan lebih membuat ku ''terdiam dan termenung'' yaaaa hmmmm mungkin aku akan berfikir ulang lagi.
Komentar
Posting Komentar