Langsung ke konten utama

tentang berbagi dan passion

ini tentang berbagi, belajar dan passion, 
saat berkumpul keluarga adalah bagian yang membahagiakan dan terkadang membawa sedikit kekecewaan. 
beberapa hari lalu tepatnya hari sabtu saya mendapat telpon ibu kalau Rio (adik bungsu) masuk rumah sakit karena tifus, awal cerita di asrama sekolahnya sudah dirawat tapi ibu ditelpon pihak sekolah kalau rio harus di bawa ke rumah sakit, dan siang itu yang seharusnya saya menhadiri wisuda dokter sahabat-sahabat dan saya tak menghadirinya, hp pun mati, karena panik. 
baru aktif lagi malam sampai di rumah sakit di Solo, 
Dear sahabat-sahabatku,...maaf kan aku :(

dan mereka bertanya, kamu jadi dosen emang apa enaknya sil? ga pingin masuk perusaahan atau yang gajinya lebih besar? terus jadi dosen kan harus S.2, S3, kamu kapan nikahnya coba? tuh lihat mba....., mbaa.... dan mba,.... keasikan kuliah dan kerja. 

namanya di dalam keluarga ada yang pro dan kontra, tapi saya menanggapinya dengan senyuman saja dan jawaban singkat, ''saya senang dan ini adalah ladang pahala bagi hidup saya''. jika saya mendengarkan pernyataan-pernyataan negatif itu akan membuat sedih dan  down, ya sudah lah, biarkan saja, 
yang penting ibu dan bapak meridhoi jalan yang saya pilih, 
tak munafik materi memang di cari tapi bukankah rejeki datangnya dari Allah, yang terpenting berusaha dan halal, insyaAllah Allah akan memberikan lebih, tapi bukan itu, sebuah kebahagiaan, tentang berbagi, berbagi ilmu, bukankah, yang akan di bawa mati hanya ada 3 perkara ;
1. ilmu yang bermanfaat 
2. amal jariah 
3. anak sholeh/sholehah yang selalu memndoakan orangtuanya, 
Bagi saya, kemulian hidup itu bisa diperoleh bukan hanya harta tapi berbagi dan belajar, Syukur-syukur kita bisa menebar kemanfaatan pada orang lain dari ilmu dan harta sekaligus. Bukankah Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu? Dan saya memilih ini untuk membangun kehidupan saya.
ya kalau ingin mencari kaya, ya mending jadi pengusaha atau kerja di perusahaan swasta. 
dengan ini saya bisa tetap belajar dan berbagi, 

walaupun sampai sekarang ibu dan bapak belum merestui saya untuk melanjutkan kuliah S2, karena ada 3 saudara sepupu (cewek semua) kuliah di luar negeri tapi nikah telat dan ada yang belum menikah sampai umur 35, dan saya faham tentang kekuatiran beliau. 
saya mengambil pilihan ini dengan banyak alasan, bukankah hidup ini ibadah, dan belajar, berbagi tentang ilmu yang kita punya adalah salah satu wujud untuk beribadah. 
semua niatkan karena Allah, Dia akan menunjukkan arah dan jalan kita, 

Segala sesuatu jika ada passion maka terasa menyenangkan. Kalau tidak passion maka terasa menyebalkan. It’s nothing to do with money.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

check up

lagi-lagi dan lagi, agenda tahunan, hmmm ini bukan agenda rapat LPJ tahunan organisasi ya, tapi ini agenda tahunan aku periksa / check up ke dokter kandungan alias obgyn, selain ke dokter mata dan dokter gigi.  *tutup mata *tutup telinga  tutup mata karena memang harus ngeluarin duit banyak dan tutup telinga, karena aku selalu paranoid terus sebelum check up.  lanjut cerita yuk, memang sudah hampir 4 atau 5 tahun ini saya selalu check up ke dokter kandungan,  berawal dari saya tida kedatangan ''tamubulanan'' selama 2 bulan, biasanya teratur, kok ini ga teratur yaa...*mikir dalam benakku, mesti ada-apa. oia, saya biasa periksa ke dr. Siti candra, dulunya tempat prakteknya kecil, tapi sekarang sudah gede, sudah berdiri rumah sakit yang dinamain, RSIA Galeri Candra. yang ngasih info ya mba hida. dulu, awal kesana ditanya anamnesa, kemudian di periksa USG, ternyata ga ada apa-apa, legaaaaaa rasanyaaa.... pikirku, ga di kasih ...

Hijab Ku *_*

Bismillah Jilbab yang pertama kali saya kenakan yaitu disaat selesai menempuh pendidikan di bangku SMA, tepatnya setelah pengumuman kelulusan. Di awal memakai jilbab, saya tidak memiliki motivasi apapun, hanya ingin memakai saja. Ketika itu pula tidak berfikir bahwa jilbab merupakan kewajiban bagi seorang muslimah. Sebagian orang berfikir matang-matang sebelum memakai jilbab, bahkan banyak pula yang mengatakan akan berjilbab hati dulu sebelum berjilbab sebenarnya. Sejujurnya kurang setuju dengan pendapat tersebut, secara rasional bagaimana caranya berjilbab hati, kalau berjilbab tubuh jelas bisa dengan pakaian hijab. Namun apapun pendapat orang harus kita hargai. ^_^ Sebenarnya latar belakang keluarga saya bukan dari keluarga islam murni, keluarga besar ibu menganut agama nasrani dan keluarga ayah menganut agama islam, setelah lulus SD hijrah ke kota malang dan hidup bersama ayah, dari sinilah kehidupan baru dimulai, dengan dimulai belajar agama islam sedikit demi sedik...

Bogor

sudah ketiga kalinya aku menginjakan di bumi Bogor, tapi baru kali ini merasa menikmati kota ini. kota yang nyaman penuh kedamaian, memberikan kesan. orangnya baik dan ramah, hawanya panas ga panas,  masih asri, belum banyak terkontaminasi.. ah jadi pingin punya rumah di sini dan tinggal di Bogor :)) apalagi jauh dari malang, bogor jadi pengganti kerinduanku tentang malang. terimakasih Bogor... besok-besok ke Bogor lagi lah kalau lagi kangen malang. aamiin,,, di jakarta jenuh...