biasa kami duduk di gazebo taman di kampus, hanya sekedar sharing, diskusi sambil menunggu yang ditunggu.
sore itu, bersama seorang adik tingkat yang menunggu dosen untuk bimbingan skripsi, dan bersama seorang teman seperjuangan,
berawal dari pembicaraan tentang perjalanan dan hobinya (fotografi) kemudian berlanjut pembahasan terkait koassistensi dan seisinya.
adik tingkat bilang ''sebenarnya aku tak pernah menyangka mau lulus dokter hewan itu susah minta ampun mbak, harus melompati banyak rintangan, penelitian, ujian skripsi, belum lagi seminarnya, setelah itu koass, koass kyknya susah ya mba?''
me : koassnya sih ndak, ujiannya yang susah :p
dan teman seperjuangan bilang ''aku juga ngak nyangka kuliah disini sebegini ribetnya, aku liat saudaraku yang kuliah di fkh tetangga ga gini-gini amat, setahun udah pelantikan dokter, lah kita? 15 bulan belum ujiannya, belum lain-lain,
dan saya pun berfikir, iya yaa,,,, kenapa kok rasanya susahhhh sekali mau keluar kampus ini, kalau lihat teman-teman seangkatan yang di univ tetangga, ga seberat ini, ga serempong ini, ga se riweh ini prosesnya,
ya mungkin karena kami adalah pertama dan masih baru, *boleh lah diexcuse* tapi juga ga gini-gini amat, sampai 6 tahun lebih -___-
awal masuk jurusan ini tak menyadari bahwa akan sefantastik ini *lebay... tapi emang kenyaraannya seperti ini,
kuliah di kedokheran hewan itu ada enaknya ada tidak enaknya, banyak tidak enaknya,
mulai kuliah penuh dengan hafalan, praktikum, ujian-ujian yang membuat kepala botak, sampai semester 8 masih ada mata kuliah yang harus di ambil, saking banyaknya yang harus di pelajari,
belum lagi penelitian skrissi, seminar (seminar proposal, seminar hasil) dan sidang. OMG mau Sarjana saja perlu rentetan yang buanyak, itu kalau lancar, ada faktor X yang mempengaruhi (dosen yang sibuk, dan malas dan lainnya) sedikit anak jurusan ini yang lulus tepat waktu, tapi ada kok,
tapi saya bukan yang termasuk lulus tepat waktu haha,.. *molor 3-4 bulan*
nah setelah sidang, perjuangan belum selesai..... untuk mendapat gelar drh, harus menempuh koasistensi,
praktek koassistensinya seru, ketemu teman kelompok yang kompak, dan kasus-kasus yang keren, tapi ujiannya itu lho di tambah laporan... harus mengulang berkali kali sampai dosen puas, kalau belum puas dengan jawaban ya harus mengulang kembali.
masalah ngeprint laporan segabrek kayak kitab sutasoma, setelah itu ujian kompre, kalau di kampus ini, ujian komprenya tidak terbuka, jadi tertutup, matihhh rasanya di ruangan itu kayak ruang pembantaian, lihat dosen itu seperti harimau yang akan menerkamu dengan pertanyaan-pertanyaan yang ih waw....
awal pertanyaan sih oke,,,, tapi setelah itu..... 2 jam rasanyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.... masyaAllah.
terkadang di kata-katai yang sedikit menusuk hati ''jangan tanyakan pada kami, kamu udah pantas lulus jadi dokter atau belum, tanyakan pada dirimu sendiri''
hah.... gini aja ga tau,, mau jadi dokter seperti apa setelah lulus,dan pernyataan-pernyataan yang lainnya....
*sakitnya tuh di sini*
koass salah satu ujian hidup, harus banyak sabar, banyak ikhtiar, dan harus kuat mental.
dan saya baru menyadari kenapa di sini seperti ini,
seorang dosen saya saat ujian berucap,
''kami bukan ingin kalian ga lulus, kami ingin lulusan pertama dan lulusan univ ini tidak mengecewakan, beban mental lho dek, saya biasa aja ngasih nilai sekarang tapi kan nilai perlu pertanggungjawaban, jadi tolong kalian juga mengerti, kalau ingin lulus ya belajar sungguh-sungguh yaaa''
rasanyaa.... nyesss dan tetiba ikhlas dengan apa yang ada.
dosen-dosen kami begitu baik, sangat baik, tak mau anak didiknya hanya sekedar lulus, tapi sesuai kompetensi yang ada, kalau mau yaa... koass kami bisa saja di taruh di malang saja tanpa harus keliling-kemana-mana
alasannya adalah, agar kami mendapat ilmu yang lebih, menambal kekurangankekurangan yang ada pada kami,
koass di jakarta, di bimbing dokter-dokter praktisi hewan kecil yang luarbiasa (yang sekarang ikut kivnas hewan kecil pasti tau) semua pematerinya adalah dokter pembimbing kami di kala koass di sana.
dan teman-teman univ, tetangga juga bilang ''jauh amat ya,,, tapi kalian bersyukur lho. dapat disana kasusnya, diagnostik dll,,,
ya saya dan teman teman harus bersyukur,,, kita mendapat sesuatu yang belum didapat oleh orang lain, ada kemudahan dibalik kesusahan.
jadi kami diajarkan untuk benar-benar mencintai profesi, tidak hanya lulus dan begitu saja, tapi semuanya telah menancap di memori kami.
bye skh,.. welcome drh...
tapi beneran deh,...
kalau saya nanti punya anak perempuan, ga akan saya suruh untuk masuk FKH dan FKG, no no no...
mama mu ini sudah merasakan lamanya di kampus nak
tidakkkk.... syusyaahhhh di sini....
*kalau cewek, biar mama saja yang merasakan syusyahnya kuliah di kedokteran hewan.
*kalau cowok, terserah kamu mau masuk fakultas apa....
tapi ayahnya seprofesi ga yaaaaaaaa...... kalau ayahnya seprofesi pasti juga tau kalau nikmatnya kuliah d sini. seperti apa. -__-
Komentar
Posting Komentar