Assalamualaikum....selamat pagi hari sabtu...pagi yang cerah dengan hangatnya mentari yang menyinari...sore kemarin, budhe dan pakdhe datang dari karanganyar, biasalah, beliau sudah pensiun dan semenjak pensiun mengisi waktu dengan jalan-jalan....setelah selesai urusan di kampus langsung ke rumah songgoriti, bertemu dengan budhe dan pakde, biasanya emang beliau datang dan inap di villa songgoriti, katanya lebih nyaman dan dingin,sepulang dari songgoriti saya ke rumah tlekung, di perjalanan ingat sama puput, dia kan praktek di RSIA-Batu, pasti tuh anak belum makan,emang si puput makannya ga teratur, alhasil di jalan beli makanan buat puput, dan mampir di RSIA,saya lihat puput lagi banyak pasien, saya pun menunggu di ruang tunggudan pandangan saya pun tertuju pada datangnya klien anak yang ‘manis-nurut-pinter-ramah’. Hehe. Anak datang pasti dengan keluhan dari orang tua atau rujukan dari dokter dengan sekian permasalahan. Ada permasalahan yang (bisa dibilang) umum terjadi karena banyak orang tua yang mengeluhkan hal yang sama, atau bahkan masalah yang.. betul-betul bikin dahi berkerut saking herannya, ternyata ada ya masalah seperti ini..Rumah sakit, apalagi rumah sakit tingkat III seperti yang saya tempati saat ini, hemm..Namanya juga rumah sakit. Hehe.Belum lagi, poli anak. Hampir setiap saat, saya melihat pemandangan anak-anak yang sakit. Hydrocephalus (dengan berbagai ukuran kepala *maaf* karena banyaknya cairan di kepala), anak yang harus dicuci darah, anak yang sumbing, anak yang ngga bisa jalan, bahkan anak yang harus pake alat bantu jalan seperti kaki palsu. melihat orang tua tidak tega, anak apa lagi :’( Satu-satunya yang bisa dilakukan kalau melihat begitu, yaa akhirnya hanya bisa mendoakan. Semoga segera diberi kesembuhan, semoga penyakitnya bisa jadi ladang amal ayah-ibunya, semoga rezeki yang sudah dikeluarkan untuk berobat segera diganti dengan yang lebih berkah.Tapi saya belajar satu hal yang ngga akan didapat di tempat yang lain. Saya bisa melihat betapa gigihnya orang tua berjuang demi kesembuhan anaknya. Mereka tidak ragu bersusahpayah mengantri dari pagi buta, bahkan sampai nginep disana biar dapet nomer antrian sepagi mungkin. Mereka juga ngga patah semangat mengumpulkan uang selama satu bulan meskipun dalam sekejap, bisa habis di rumah sakit. Mereka juga mau membujuk anaknya kalau mereka rewel.. Mau naik-turun tangga ngurus administrasi yang..you know lahTapi sesungguhnya, yang paling bikin ngga nyaman adalah, karna rumah sakit ngga akan pernah sepi. Apalagi rumah sakit pemerintah. Ngga nyamannya kenapa? saya sering ngga tega liat para pasien yang menunggu (entah nunggu antrian, entah nunggu dapet jatah kamar, atau menunggu sesuatu yang ngga pasti? #eh), golar-goler di kasur di sisi-sisi rumah sakit. Mending kalau dapet kasur, nyatanya banyak juga pasien yang pada akhirnya gelar tiker dan ngampar di pinggir gitu aja. Meringkuk, dengan muka pias. Duhh ngga tega -_____-
Sejak saat itu saya yakin. Sungguh, Allah bersama orang-orang yang sakit dan mau berjuang melawan penyakitnya. Allah bersama para keluarga yang tetep mencoba kuat dan menguatkan anak-anaknya. Dan Allah ngga akan pernah memberi ujian di luar batas kemampuan.. Seberat apapun kondisinya, insya Allah, pasti itu yang terbaik, dan pasti kita akan dimampukan melewatinya.Rasanya ingin bilang begitu sama semua orang yang terlihat depressed di pinggiran rumah sakit.. Semoga Allah menyertai kalian selalu..
dan pada alkhirnya waktu istirahat puput datang juga, pukul 20.00 dia selesai dan di ganti dokter lainnya, dan ternyataaa... dia adalah mas wildan, kakak kelas jaman SMA, ah dunia ini kecil sekali :))
Komentar
Posting Komentar