Langsung ke konten utama

99 cahaya di langit Eropa

Novel ini ku baca hasil rekomendasi dari rida, dia kuliah di Jogja, pernah mengirim lewat Whatshapp. dia bilang kalau novel ini bagus, penasaran dan tanya ke teman-teman yang ada di Malang. ternyata mereka ga ada yang punya, ya sudah ah, akhirnya aku beli novel ini di Gramedia. 

Baiklah, 
kita mulai yaa resensi novelnya :)

Novel 99 Cahaya di Langit Eropa ini di tulis oleh Hanum Salsabiela Rais dan suaminya Rangga Almahendra. dan memiliki tema menapak jejak islam di eropa. 
kisahnya berisi tentang perjalanan spiritual dari hanum dan rangga selama 3 tahun di Eropa, rangga mendapat beasiswa doktoral, dan hanum bekerja sebagai jurnalis di sana. di austria. 
novel ini berhasil membawaku berimajinasi tentang keindaahan islam di Eropa, Eropa tak sekedae Menara Eiffel, Tembok Berlin, Konser Mozart, Stadion San Siro, Colloseum Roma atau gondola-gondola di Vebezia. Namun di sisi lain, dari buku ini, hanum dan rangga menyajikan sebuah cerita tentang penjelajahan sejarah dan menemukan bahwa islam pernah berjaya di masa itu. Eropa dan islam pernah menjadi bagian yang tak terpisahan dan serasi. 
negara dan tempat yang mempunyai sejarah islam antara lain Wina (Austria), Paris (perancis), Granda dan cordoba (Spanyol), Istanbul (Turki. 

novel ini berhasil membawa saya menapaki jejak sejarah islam di benua Eropa, dan membuat saya makin mencintai agama Islam sebagai rahmatan lil alamin, Subhanallah. 

ku teringat kata sahabat Ali RA:
''wahai anakku, dunia ini bagaikan samudra dimana banyak ciptaan-ciptaanNya yang tenggelam, Maka jelajahi dunia ini dengan menyebut nama Allah. Jadikan ketakutanmu pada Allah sebagai kapal-kapal yang menyelamatkanmu. Kembangkan lah keimanan sebagai layar, logika sebagai pendayung kapalmu, ilmu pengetahuan sebagai nahkoda perjalananmu, dan kesabaran sebagai jangkar dalam setiap badai cobaan''


selamat membacaa :) 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

check up

lagi-lagi dan lagi, agenda tahunan, hmmm ini bukan agenda rapat LPJ tahunan organisasi ya, tapi ini agenda tahunan aku periksa / check up ke dokter kandungan alias obgyn, selain ke dokter mata dan dokter gigi.  *tutup mata *tutup telinga  tutup mata karena memang harus ngeluarin duit banyak dan tutup telinga, karena aku selalu paranoid terus sebelum check up.  lanjut cerita yuk, memang sudah hampir 4 atau 5 tahun ini saya selalu check up ke dokter kandungan,  berawal dari saya tida kedatangan ''tamubulanan'' selama 2 bulan, biasanya teratur, kok ini ga teratur yaa...*mikir dalam benakku, mesti ada-apa. oia, saya biasa periksa ke dr. Siti candra, dulunya tempat prakteknya kecil, tapi sekarang sudah gede, sudah berdiri rumah sakit yang dinamain, RSIA Galeri Candra. yang ngasih info ya mba hida. dulu, awal kesana ditanya anamnesa, kemudian di periksa USG, ternyata ga ada apa-apa, legaaaaaa rasanyaaa.... pikirku, ga di kasih ...

Hijab Ku *_*

Bismillah Jilbab yang pertama kali saya kenakan yaitu disaat selesai menempuh pendidikan di bangku SMA, tepatnya setelah pengumuman kelulusan. Di awal memakai jilbab, saya tidak memiliki motivasi apapun, hanya ingin memakai saja. Ketika itu pula tidak berfikir bahwa jilbab merupakan kewajiban bagi seorang muslimah. Sebagian orang berfikir matang-matang sebelum memakai jilbab, bahkan banyak pula yang mengatakan akan berjilbab hati dulu sebelum berjilbab sebenarnya. Sejujurnya kurang setuju dengan pendapat tersebut, secara rasional bagaimana caranya berjilbab hati, kalau berjilbab tubuh jelas bisa dengan pakaian hijab. Namun apapun pendapat orang harus kita hargai. ^_^ Sebenarnya latar belakang keluarga saya bukan dari keluarga islam murni, keluarga besar ibu menganut agama nasrani dan keluarga ayah menganut agama islam, setelah lulus SD hijrah ke kota malang dan hidup bersama ayah, dari sinilah kehidupan baru dimulai, dengan dimulai belajar agama islam sedikit demi sedik...

Bogor

sudah ketiga kalinya aku menginjakan di bumi Bogor, tapi baru kali ini merasa menikmati kota ini. kota yang nyaman penuh kedamaian, memberikan kesan. orangnya baik dan ramah, hawanya panas ga panas,  masih asri, belum banyak terkontaminasi.. ah jadi pingin punya rumah di sini dan tinggal di Bogor :)) apalagi jauh dari malang, bogor jadi pengganti kerinduanku tentang malang. terimakasih Bogor... besok-besok ke Bogor lagi lah kalau lagi kangen malang. aamiin,,, di jakarta jenuh...