Aku dan kamu adalah seorang teman. Kita selalu punya waktu untuk berbincang (yang tak jarang terisi dengan ledakan tawamu karena satu hal yang lucu). Kita bahkan punya waktu diskusi berdua saja, meski hanya terjadi sekali-sekali. Tapi, kita tidak pula terlalu dekat. Aku selalu tak pernah tahu kamu sibuk apa saja hari ini.
Aku menjalani hari-hari sendiriku setiap hari. Dan kamu pun begitu. Kita, sama-sama mendewasa setiap harinya, di tempat yang berbeda.
Aku mungkin punya seribu satu alasan untuk menghubungimu, sekedar bertanya kabar atau meminjam buku. Tapi satu alasan cukup membuatku urung melakukannya. Aku perempuan. Aku ingin mengikhtiarkanmu dengan cara baik-baik. Tanpa pertemuan-pertemuan tak beralasan, tanpa perbincangan basa-basi yang bersandar pada kepentingan dibuat-buat, tanpa gejolak berlebihan, serta naik-turunnya perasaan yang sulit dikendalikan. Aku ingin mengikhtiarkanmu dengan cara baik-baik. Menyertakan namamu dalam doa di setiap pagi. Tersenyum dan berbincang sekadarnya. Mendukung cita-citamu semampunya karena aku belum menjadi (atau bahkan bukan) siapa-siapa.
Aku menjalani hari-hari sendiriku setiap hari. Aku, ingin mengikhtiarkanmu dengan cara baik-baik. Dengan cara yang tak membuat Tuhan dan hamba-hambanya cemburu. Cara yang penuh keikhlasan. Cara yang tak akan menyakitkan bila kamu ternyata bersama orang lain.
-dari seorang teman-
Komentar
Posting Komentar